Bandara Minangkabau |
Citilink
mendarat dengan mulusnya di bandara International Minangkabau. Pagi itu bumi
minang tampak cerah dan semoga saja akan
terus begini hingga 2 hari ke depan. Seperti biasanya, sopir
travel sudah saling berebut penumpang ketika melihat segerombolan penumpang
keluar dari bandara. Saya sendiri segera menuju pool Damri untuk menuju kota
Padang untuk eksplore Padang kecil-kecilan, karena saya memang sengaja ingin
langsung ke Bukittinggi siangnya. Damri yang saya tumpangi ngetem lumayan lama,
maklumlah...masih menunggu penumpang dari maskapai lain karena seat di bus
belumlah terisi penuh. Bayar 21K dan 45
menit kemudian tibalah saya di Jl Imam Bonjol (pemberhentian terakhir Damri).
Dari sini bisa langsung ke museum Adityawarman dan jalan-jalan ke pasar.
Kebetulan ada kawan yang berniat baik mengantarkan saya ke pool bus mikro (ELF)
tujuan Bukittinggi, saya lupa nama tempatnya hanya saja saya mengingat dekat
dengan Basko Plaza
Perjalanan
ditempuh sekitar 2 jam, sayang cuaca di Sumatra Barat ini lagi semaunya,
kadang panas cetar eh tiba-tiba turun hujan. Lewat
dari separuh perjalanan, saya seharusnya turun di obyek wisata air terjun Lembah
Anai, namun karena hujan cukup deras jadi saya memutuskan untuk melihatnya dari
sisi kanan jendela ELF saja.
Tiba di simpang
Jambu, dan saya diturunkan oleh bang sopir dan ditagih untuk bayar 20K. Lanjut
naek angkot dan turun di tempat jam gadang berada dengan membayar 2,5K. Kawasan itu ternyata penuh sesak oleh warga yang sekedar kongkow atau
berbelanja sore itu. Sudah pukul 17.10 wib ternyata, dan saya belum mencari penginapan untuk menginap. Segeralah saya bergegas mencari Jl Teuku Umar mencari
Hello Guest House yang katanya sudah menjadi langganan para Backpacker. Tanya-tanya
ke orang sekitar kok pada nggak ngeh yah? Akhirnya istirahat sebentar beli jus
alpukat dan bilang pengen ke STIE atau masjid Kampung Cina, baru deh pada ngeh.
Sedikit tips, orang-orang di Bukittinggi ga begitu hapal dengan nama jalan
tetapi mereka lebih mudah menghapal bangunan atau landmark yang sudah terkenal.
Menurut info yang punya kedai, saya cukup naik angkot yang berwarna merah dan
harus carry, bukan yang kijang karena angkot tersebut melewati rute tersebut.
Baiklah, sayapun menurut dan segera menyetop angkot merah tersebut. Dapet
angkot yang sopirnya heboh banget, jadi bisa tanya-tanya soal Bukittinggi. Abang
sopirnya tanya mau kemana, saya jawab STIE dan katanya nanti saya akan
diturunkan disana. Karna keasyikan ngobrol akhirnya terlewatlah STIE itu, dan sayapun akhirnya malah ikutan abang sopir keliling kota Bukittinggi. Melewati pasar, sampe ke terminal Aur Kuning dan kita ngopi sebentar disana kemudian lanjut mencari penumpang yang mulai jarang karna hari sudah menjelang malam. Sayapun diturunkan tepat di di depan STIE persis didepannya Masjid Nurul Haq kampung Cina dan abang sopir tak mau saya bayarkan ongkosnya karna merasa sudah ditemani satu rit (satu putaran penuh trayek). Baiklah, lumayan irit, bisa dipake untuk lain uangnya :).
Untunglah Hello Guest House terlihat dari ujung jalan, jadi saya tidak perlu bertanya lagi, namun saat itu guest house sedang direnovasi, jadi tidak bisa menerima tamu. Hotel-hotel disebelahnya juga sudah penuh, dan jadilah saya kembali berjalan kaki mencari tempat singgah yang murah meriah. Akhirnya saya mendaratkan kaki di hotel Orchid yang tidak jauh dari Hello Guest House. Ketemu sama yang punya hotel, ngobrol soal culture di Bukitinggi sampe nanya soal makanan yang ajib. Sang empunya hotel merupakan keturunan Chinese yang sudah menetap di Bukittinggi cukup lama dan menurut informasi yang saya terima, tidak pernah ada isu sara yang terjadi di Bukittinggi...salut buat toleransi beragamanya *kasihjempol.
Selepas magrib saya mulai berkeliaran diseputaran Jam Gadang. Malam itu udara Bukittinggi cukup sejuk, maklumlah baru saja gerimis mengguyur kota ini. Menyusuri jalan menuju areal Jam Gadang seorang diri itu rada garing, untungnya orang-orang disini ramahnya luar biasa, jadi ga begitu kesepian jalan-jalan sendirinya. Areal Jam Gadang cukup padat malam itu, mall yang berada didekatnya terlihat ramai ditambah atraksi badut dan tukang foto keliling yang lalu lalang membuat Jam Gadang terasa begitu gempita di malam minggu ini. Puas dengan keramaian saya memutuskan mencoba sate Padang dari ranah minang langsung, rasanya tak jauh berbeda dengan yang saya pernah coba di Jakarta, tapi sensasinya itu loh...luar biasa hehehe. Tak lupa saya pesan minum es buah disebelah warung makan, dan terlibat lah obrolan seru dengan Ari sang penjual es. Ari janji mo nemenin jalan-jalan besok pagi, yeye...lalala...yeye..lalala. Setelah selesai sayapun kembali ke hotel dan bergegas istirahat mengumpulkan energi untuk esok.
![]() | |||
Ki-Ka : Kota Bukittinggi dari areal Jam Gadang - Jam Gadang yg fenomenal - Pasar bawah - Bendi (andong) - Entah Marapi atau Singgalang - Sate Padang |
Selamat pagi Bukittinggi....
Ari tak kunjung tiba dan tak ada kabar, mungkin dia lelah. Akhirnya saya putuskan berjalan kaki sekedar menyasarkan diri. Destinasi pertama, Ngarai Sianok...
![]() |
Ngarai Sianok |
Jalan lagi menuju Janjang Koto Gadang
![]() |
Janjang Koto Gadang |
Lanjut ke Lubang Jepang
![]() |
Lubang Jepang |
![]() |
Bubur Kampium dan Pical Ayang |
Kembali ke hotel, mandi dan check out. Tiba-tiba terdengar bunyi handphone tanda panggilan masuk, dari Ari ternyata. Ari baru bisa menemani saya siang harinya karena ada urusan yang harus dikerjakan. Tak apalah setengah hari, yang penting saya punya teman ngobrol sepanjang perjalanan nantinya.
Jembatan Limpapeh |
With Ari |
Museum Rumah Adat Baanjuang |
Saya harus menyudahi perjalanan ini, kembali menempuh 2 jam perjalanan menuju kota Padang dan langsung ke Minangkabau Airport. What a great time, thank u Sumatera Barat...never regret for being here.