Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nature. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Oktober 2013

Menanti Sunrise di Gunung Prau Dieng

Jarum jam baru menunjukkan pukul 04.00 dini hari, kegelapan masih berkuasa meski ratusan bintang tertempel cantik di langit Dieng. Semilir angin menghembuskan hawa dingin yang begitu terasa menusuk pori-pori kulit. Enggan rasanya keluar dari sleeping bag yang membungkus tubuh saya semalaman, namun saya harus bangkit dan mencoba mengabaikan semua itu…demi sang mentari.

Saya pun mulai mencari debu disekitaran tenda dan bertayamum, semenit kemudian sayapun siap menghadap sang empunya alam. Sayang, subuh saya diusik dengan musik dari tenda sebelah. Tenda yang berisi sekumpulan pemuda itu semalaman menyetel lagu-lagu yang tidak saya pahami. Gila kali yah, ke gunung bawa radio…gak sekalian aja bawa home theater !!! Dongkol bercampur mangkel membuat saya menyudahi ibadat saya. Entahlah, mungkin saja mereka  sedang mencoba menunjukkan eksitensi mereka dengan segala ego sehingga tak peduli dengan mereka yang menapaki 3 jam perjalanan dengan maksud menikmati ciptaan Tuhan ini. Bergegas menyiapkan handphone berkamera, tak mau kehilangan moment dan sayapun sudah bergabung dengan Indra, Yayah, Andi dan rekan lainnya.

Setengah jam pun berlalu, saya masih berusaha melawan hawa dingin yang terus merangsek masuk kedalam jaket, sayapun masih merasakan gemeretak gigi lantaran dingin yang luar biasa. Moment itu tiba juga, semburat emas mulai saya rasakan melalui indra penglihatan. Rasa hangat mulai menjalari kulit saya, mengusir dingin yang tadinya meraja. Subhanallah…indah nian kawan.

Latar belakang Sindoro Sumbing
Waiting for sunshine
Kembali menuju Petak banteng dengan rute candi, melewati padang sabana dan bukit teletubies. Diujung bukit terlihat telaga warna dari kejauhan, melewati hutan teduh dengan sedikit rintik hujan membuat perjalanan kami berwarna. 3 jam perjalanan tidaklah begitu kami rasakan, permainan tebak “bisa jadi” membuat waktu terasa singkat. Tawa, canda dan coklat choki-choki menghiasi perjalanan kami.

Sabana Prau
Pendakian kali ini hanyalah sekedar cerita indah tentang keindahan, persahabatan dan kebersamaan yang terukir bersama laju kereta Gaya Baru Malam Selatan. Kembali ke Jakarta, kembali pada dunia ‘nyata’ dengan segala ceritanya.

Thanks to :
1. Yayah and the girls yang udah masakin kita makanan terlezat selama disana
2. Koh Indra + Cici Wati yang udah traktir mie ongklok
3. Neng Regi yang udah menjadikan bang Andy item buat bahan tebak "bisa jadi"
4. Tante Rina + Dewi yang udah jauh-jauh dari Semarang dan Bali buat gabung
5. Randy yang nyaris ga ikutan tapi jadi hero karena udah jadi Mr. Green yang rela angkut sampah-sampah kita

Last but not least, thanks to Allah SWT yang telah memperlihatkan secuil surga di tanah Dieng

Senin, 05 November 2012

Tak Perlu Nyali Gede Untuk Menaklukan Gn. Gede

Kali ini saya tak banyak bercerita, hanya ucapan terima kasih untuk team yang sudah membawa saya mencapai puncak untuk kali pertamanya. Perjalanan meniti hutan mencapai puncak Gede mungkin hampir sama dengan perjalanan saya ke Merbabu.Terjatuh, terpeleset, terkilir, dan yang pasti menerjang guyuran hujan untuk mencapai alun-alun Surya Kencana. Awalnya saya memang agak ragu untuk kembali mendaki, maklumlah fisik memang sedang ngedrop ditambah lagi hari seninnya saya harus berangkat pagi buta ke Balikpapan. Namun, iming-iming budget murah berhasil membuat saya menyerah. Pinjem Deuter+Sleeping Bagnya One dan untungnya matrasnya Esthi belom saya balikin jadi ga perlu pinjem peralatan lagi. Soal kompor, tenda dan lainnya nebeng sajalah dengan yang lain, hehehehe.

Jum'at, 26 Oktober 2012

Meeting point yang disepakati adalah di UKI Cawang. Titip motor dan saya dengan Tomy mencoba bergabung dan mulai SKSD dengan peserta yang lain. Pukul 21.20 WIB dan sebuah truk tentara berhenti dan memarkir di tempat kami berkumpul. Yups, kendaraan inilah yang akan membawa kami ke Gunung Putri. Absensi oleh panita and great....saya ga kebagian tempat duduk dan bisa dibayangkan betapa pegalnya kaki saya sebelum perjalanan dimulai. Tiba di home stay sudah sekitar pukul 01.00 dinihari dan sialnya lagi mata ini ga bisa diajak istirahat, tau-tau kokok ayam sudah cetar membahana pertanda hari baru dimulai....Hooooaaammmzzzzz

Sabtu, 27 Oktober 2012

Siap-siap memulai perjalanan setelah sarapan nasi goreng. Mulai mengatur ulang bawaannya, mencoba membuatnya seringkas mungkin berharap dapat mengurangi beban ketika nanti perjalanan dimulai. Bekal yang saya bawa mulai saya bongkar, dari kopi susu, roti sobek sampai dengan antangin :). Team pertama sudah berangkat dan sayapun dengan sumringhnya mulai melangkah. Langkah pertama, kedua, ketiga...semangat itu masih terlihat, namun setelah 10 menit berjalan akhirnya kata ini muncul dari mulut saya..."Break" !!!






Setelah perjalanan melelahkan itu sampai juga kami di Surya Kencana, cukup ramai Surken hari itu...maklumlah esok adalah hari Sumpah Pemuda, jadi banyak komunitas dan elemen masyarakat yang memang berniat merayakan moment tersebut di Gunung Gede. Surken ternyata indah, hamparan tanah lapang dengan segerombolan edelweis cantik membuatnya menjadi primadona untuk ngecamp. Selain itu sumber air lumayan banyak ditempat ini, jadi bagi yang niat mandi silahkan saja hehehe. Sampai ditempat yang dirasa nyaman, kamipun mulai ribet mendirikan tenda. Taraaaa....tenda sudah berdiri, saatnya mengistirahatkan badan dan kaki yang protesnya udah dari 4 jam tadi. Kembali ke kehidupan saya, lantaran usia yang semakin merenta akhirnya saya hanya berdiam diri ditenda selepas makan malam. Angin dan udara dingin Gede ternyata membuat saya mengurungkan niat untuk eksis diantara peserta yang lain. Bikin kopi susu, gelar sleeping bag dan sayapun senewen dengan hawa dingin yang mulai merambat ke sekujur tubuh.....Aaaarrrggghhh, plis udahan donk anginnya, dingin neh. Zzzz...zzz dan sayapun terlelap.
28 Oktober 2012

Pukul 03.00 dini hari kok ada rame-rame yah, kedengeran seperti orang jualan. Ternyata benar saja, seorang bapak menawarkan barang dagangannya yang berupa nasi uduk dan kopi. Etdah bujug, ternyata di Surken ada yang jualan nasi buat sarapan hahahaha. Plan hari ini cuma hunting sunrise dan menghadiri upacara memperingati Sumpah Pemuda. Kali ini treking ga seberapa jauh, hanya sekitar satu jam kami sudah mencapai puncak Gede. Walaupun rada telat ga liat sunrise karna mentarinya ga sabar nunggu, namun suatu kebanggaan buat saya untuk bisa berada di tempat ini, pagi hari dengan terpaan sinar sang surya....Subhanallah.






Telat untuk ikutan upacara dan akhirnya sayapun cuma masak buat sarapan. Dari kejauhan terlihat peserta upacara tampak antusias mengkuti jalannya upacara. Bentangan bendera raksasa dibentangkan sedemikian rupa membawa nuansa patriotisme modern. Begitu memukau dan sempat merinding sampai pada saat pembacaan teks sumpah pemuda:
  • Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.
  • Kami Putra dan Putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.
  • Kami Putra dan Putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.
Selesai sudah prosesi upacara menyambut Sumpah Pemuda, nasionalisme memang tidak bisa diukur dari seberapa banyak kita mengikuti event-event kenegaraan, memasang simbol-simbol kenegaraan, hafal sejarah perjuangan bangsa, khatam dengan lagu-lagu perjuangan. Membuang sampah pada tempatnya, disiplin dalam segala hal sampai dengan mencintai alam Indonesia adalah sikap nasionalisme yang simple dan belum tentu dimiliki oleh setiap rakyat Indonesia. Sepele memang, namun bila hal kecil tersebut bisa kita lakukan, bukanlah hal sulit untuk mengubah image Indonesia yang melulu negatif dimata dunia. Banyak hal yang saya dapatkan dalam perjalanan saya kali ini, tidak hanya sekedar mencoret Gede dari daftar tujuan saya tahun ini namun setidaknya saya belajar untuk mencintai Indonesia se Indonesia Indonesia-nya.

Mulai membongkar tenda dan bersiap turun menuju check point Gunung Putri. Kembali menempuh perjalanan panjang dan berujar....LUAR BIASA !!!

Sabtu, 29 September 2012

Meraba Merbabu 3142 Mdpl

Mendadak terlintas untuk melupakan sejenak tumpukan-tumpukan dokumen yang tak kunjung menyusut di meja kerja saya. Mengabaikan kemacetan Jakarta yang setiap hari harus saya telan, mengacuhkan komputer dan laptop yang selalu saya "kerjai". Saatnya kembali mencumbu alam, kembali merasakan hangatnya mentari, merasakan segarnya air pegunungan...dan Merbabulah yang saya pikir bisa membuai dan melenakan saya dengan keanggunannya itu.

Secara administratif, kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu terletak di 3 kabupaten, yaitu : Kabupaten Magelang, seluas 2.160 ha, Kabupaten Semarang, seluas 1.150 ha, Kabupaten Boyolali, seluas 2.415 ha (sumber dari merbabunationalpark.org). Pendakian Merbabu bisa dilalui melalui beberapa jalur, bisa melewati jalur Tekelan, Cuntel, Selo atau Wekas. Kali ini kami memilih jalur Wekas, jalur Wekas di mulai dari Desa Kaponan, Magelang. Dari Kaponan kami harus berjalan kaki menuju Desa Wekas, sebenarnya ada alternatif ojek dengan tarif 15K (lumayan mengirit tenaga sampai dengan pos pendaftaran). Sebenernya bukan lantaran 15K kami putuskan untuk berjalan, namun kami pikir kami akan mendapatkan cerita menarik dari hasil kami berjalan. Benar saja, mulai dari minta wortel dan daun seledri dari warga sekitar, menumpang mobil pick up yang mengantar sayur dari Desa Kaponan, sampai dengan bertemu dengan nenek yang memberikan kami nasihat untuk berbuat sopan di Merbabu nantinya. Seruuuu...dan yang pasti melelahkan.











Dari base camp di Wekas perjalanan dilanjutkan ke Pos I, kebetulan kami mulai pendakian selepas Magrib jadi kami memerlukan pandangan dan kewaspadaan ekstra untuk bisa mencapai Pos II. Tidak mudah memang untuk pendaki yang baru seperti saya dengan tracking menanjak dan curam, namun dengan keyakinan dan dukungan dari sahabat-sahabat saya yang luar biasa akhirnya saya mampu mencapai Pos II dan mendirikan tenda disana. Perjalanan kami lanjutkan esoknya, bersua dengan rekan-rekan dari Jogja namun sayang kami tidak mencapai summit. Walaupun kami tidak mencapai puncak karena waktu yang tidak memungkinkan, namun kami merasa perjalanan kali ini teramat luar biasa dan memastikan untuk kembali dan merasakan puncaknya melalui jalur Selo.

Hamparan bintang yang begitu indah di langit Merbabu, gumpalan-gumpalan awan yang terasa begitu dekat, cantiknya edelweiss, angkuhnya sang Semeru yang nampak dari kejauhan, semangat dan keceriaan sahabat-sahabat istimewa saya dan yang pasti....Mie terlezat yang pernah saya makan. Subhanallah....

Kamis, 30 Juni 2011

Meneropong Bandung dari Caringin Tilu

Libur di tengah hari kerja? Mmmhh…bagaikan oase yang menyejukkan meskipun cuma sesaat. Saya pikir lumayanlah untuk merecharge energi yang sempat terkuras setelah 2 hari bekerja, tapi sepertinya hal tersebut belum berlaku terhadap saya. Karena ajakan dan bujuk rayu seorang sahabat akhirnya saya pun memutuskan untuk mengisi liburan yang hanya satu hari tersebut dengan cara bercengkrama dengan moda transportasi kereta api. Alternatifnya adalah Bogor, Jakarta Kota, dan Bandung. Mengingat tahun lalu kami sudah dibuat pusing lantaran berputar putar dengan angkot di Bogor hanya sekedar mencari Macaroni Panggang maka Bogor kami skip. Kebetulan minggu kemarin saya eksis di seputaran Kota Tua, Monas dan HI, kembali diputuskan tidak untuk tempat ini. Pilihan pun akhirnya jatuh pada kota kembang Bandung. Kamipun sepakat menggunakan Argo Parahyangan menuju Bandung dengan jadwal keberangkatan pukul 06.57 dari stasiun Jatinegara esok.


Pagi itu 29 Juni 2011 pukul 05.30…

Alarm handphone saya berbunyi tepat ditelinga saya dan sayapun dibuatnya terbangun. Haahhh, kesiangaaaan….!!!! Buru-buru cuci muka, gosok gigi, wudhu dan shalat subuh. Setelah menghadap-Nya dengan berbekal deodorant dan sedikit farfum sayapun langsung menuju stasiun tanpa mandi :). Pukul 06.14 saya berpapasan dengan Argo Parahyangan sebelum berhasil mencapai stasiun. Sempat dilemma apakah kami akan terus melanjutkan ide perjalanan nekat itu. Karena kami merupakan dua manusia lucu nan menggemaskan yang diberikan kesabaran luar biasa akhirnya dengan ini memutuskan untuk tetap melanjutkan trip ke Bandung  meskipun kereta berikutnya baru berangkat pukul 09.27 dari stasiun Jatinegara.

Musim liburan sekolah seperti saat ini membuat stasiun Jatinegara membludak, antrian memanjang bahkan sampai keluar stasiun. Antusiasme masyarakat untuk menggunakan moda trasportasi yang satu ini memang tidak pernah surut, faktor harga dan waktu merupakan salah satu alasan mengapa masyarakat masih bertahan dengan moda si ‘ular besi’ ini meskipun fasilitas yang diperoleh bisa dikatakan jauh dari kata ‘Layak’ untuk kereta api kelas Ekonomi. Pukul 07.30 loket pembelian dibuka, antri dan ternyata kursi untuk kelas Bisnis sudah habis terjual. Mau tak mau terpaksa kami membeli kursi Eksekutif dengan tarif Rp. 60.000/org. Agar memudahkan kami dalam hal kembali ke Jakarta kamipun membeli tiket kembali untuk kepulangan pukul 20.05 dari Bandung untuk kelas Bisnis dengan tarif Rp. 30.000/org….criiiiing.

Argo Parahyamgan
Selama prosesi menunggu kami sepakat untuk menuju stasiun Gambir sekalian melihat aktivitas masyarakat Jakarta ketika liburan. Masuk stasiun Jatinegara dan kami menumpang kereta api Argo Jati yang akan menuju Gambir. Sampai stasiun Gambir langsung menuju Monas. Hari itu Monas tidak begitu ramai, tidak seperti hari Sabtu atau Minggu biasanya. Menjelang pintu masuk ke areal Monas terlihat lalu lalang orang yang sedang berolahraga, empat orang  turis yang sedang mengambil gambar atapun orang-orang yang hanya sekedar menikmati Jakarta di pagi hari. Guna menyenangkan perut kami, kamipun segera membeli gorangan, intel goreng plus es jeruk. Beberapa saat kami selesai sarapan terdengar panggilan dari dalam stasiun untuk penumpang Argo Parahyangan segera menuju peron keberangkatan karena kereta akan segera bergegas mengepulkan asapnya meninggalkan Gambir.

Ketemu bocah lucu ini di dalam kereta
Ternyata kami berada digerbong kereta yang dibatik. Ada sedikit kebanggaan ketika saya mengetahui berada pada satu gerbong yang 'berbeda' hehehe. Pluit panjang terdengar nyaring dan Argo Parhyanganpun akhirnya melengking menandakan sang Argo untuk segera bergegas meningglkan stasiun ini. Sepanjang perjalanan mengalir begitu banyak cerita, mulai dari cerita sedih sampai dengan cerita konyol yang membuat kami tertawa. Perjalanan selama 3 jam tersebut seakan tak terasa karena kami disuguhkan pemandangan yang luar biasa ciamik. Menjelang Purwakarta keindahan kembali ditorehkan sampai Cimahi. Dimulai dari areal pesawahan, sungai, gunung, bukit, jembatan dan terowongan seperti menjadi satu paket yang bisa kami nikmati dalam perjalanan ini. Pukul 12.27 kami tiba stasiun Bandung.

Untungnya saya masih menyimpan nomor telepon seorang rekan dari komunitas backpacker yang berdomisli di Bandung. Yups, saya hubungi Abie dan Abie dengan keikhlasannya menawarkan kami bantuan untuk menjelajah Bandung. Saya sebelumnya sudah menghubungi sahabat saya yang memang sedang berdomisli di Bandung juga, Krisna. Abie memberikan alternatif untuk menikmati kota Bandung, saya sendiri memang ingin merasakan suasana Bandung yang berbeda. Bukan dengan berbelanja di FO atau sekedar nongkrong di Mall. Mengingat saya sudah memesan tiket pulang mau tak mau saya juga harus berlomba dengan waktu. "Cartil, Punclut atau Bukit Bintang aja Gum, bagus tuh viewnya apalagi kalo malam", begitu kata Abie. Sayapun merespon dengan sumringah, dan mengiyakan untuk menuju Cartil alias Caringin Tilu.

Hujan yang mengguyur kota Bandung sore itu menebarkan hawa sejuk tapi yang saya rasakan malah cenderung kearah dingin :). Berbekal 2 motor kamipun menuju Cartil. Dari arah Gasibu, ikuti saja Jl Suci atau PHH Mustofa ke arah Terminal Cicaheum. Sekitar 100 meter sebelum Cicaheum atau tepat setelah Surapati Core di kiri jalan terdapat jalan  bernama Padasuka. Masuk aja ke jalan padasuka dan nanti kita akan melewat Saung Angklung Udjo. Teruskan saja berkendaraan, sekitar 3-4 kiloan baru kita bisa melihat Bandung dari sisi yang berbeda. Jalan menuju Cartil full of tanjakan dan tikungan dengan lebar jalan kira-kira hanya 4 meteran. Mengingat kondisi jalan yang licin sehabis diguyur hujan kami hanya memacu kendaraan 20-30 km/jam sampai akhirnya kami tiba pada sebuah tikungan dimana Bandung terlihat apik dibalut dengan pegunungan dan rumah penduduk yang semakin mengecil. Subhanallah...benar-benar indah, sayangnya sore itu Cartil berkabut sehingga pandangan kami menjadi terbatas. 

Nun jauh disana kota Bandung
Awan yang menggelayut di atas Caringin Tilu


Tak jauh dari tempat kami berdiri terdapat rumah makan Dapur Caringin Tilu, kamipun segera bergegas menuju tempat tersebut. View yang ditawarkan ditempat ini benar-benar menakjubkan. Bandung terlihat indah dari ketinggian. Kerlap kerlip lampu berwarna kuning keemasan segera berpijar tak kala senja menyapa. Menikmati makan malam dengan suguhan pemandangan kota Bandung benar-benar memberikan sensasi tersendiri. Suasana damai seperti ini hampir membuat kami terlena, kami harus kembali berpacu dengan waktu untuk kembali ke stasiun. Kereta yang membawa kami akan berangkat pukul 20.05 dan kami harus tiba sebelumnya. Pukul 19.47 kami tiba di stasiun, tak lupa kami berterima kasih pada kang Abie dan Krisna yang sudi memberikan kami suguhan yang luar biasa. 


Pukul 20.05
Argo Parahyangan meninggalkan Bandung menuju Jakarta, dan sayapun akhirnya terlelap...

Jumat, 05 November 2010

Sepenggal cerita dari Pangandaran

Berawal dari kejenuhan yang sudah mencapai kadar akut akhirnya saya memutuskan untuk pergi berlibur. Ternyata gak mudah buat menyatukan jadwal dengan para sahabat, but vacation must go on  dengan  atau tanpa mereka. Iseng2 browsing cari tempat2 yg belum pernah saya singgahi,  dan akhirnya mouse saya berhenti pada link http://backpackerindonesia.com/node/567. Ini dia yg saya cari...backpackeran ke Green Canyon + Pangandaran dan timingnya juga tepat (abis gajian,red) hehehe...Dan akhirnya saya memutuskan untuk ikut bergabung dengan komunitas ini dan konfirm ikutan by email ke Latifu & Anti.
 
And the story begin...


Jum'at 29 Oktober 2010

Akhirnya pukul 17.30, waktunya absen pulang hehehe. Espipi saya hanya menoleh, geleng-geleng kepala dan berdecak kagum melihat anak buahnya yang berdedikasi tinggi sudah berdiri didepan mesin absen tepat waktu padahal biasanya saya pulang jam 18.30. Maafkan saya bu espipi, saya pulang duluan...*ting, mengedipkan mata*. Selepas magrib saya pun bergegas menuju  halte busway kearah Jakarta kota karna meeting pointnya disana jam 19.00. Ampun dagh Jakarta, berangkat macet pulang juga kena macet...hufft. Tiba di stasiun Jakarta kota jam 19.30, clingak clinguk cari rombongan manusia yang pake ransel di depan A&W. Akhirnya mata saya tertuju pada segerombolan pemuda-pemudi yg duduk dengan santainya sambil ngobrol ngalor ngidul. Saya coba menghampiri sambil nanya, "Maaf mas, ini rombongan yang mau ke Pangandaran yaks?" trus mas itu njawab "Yoi, bro...welcome". Mas itu namanya Latifu, trus ada Anti "Bu Sekjen", Reni, Mia, Aldi, Rina, Opic, Diana, Yayu, Ms Yudi, Nisa, Abel, "Trio Kwek2 Erika, Tomo sm Arez" dan di menit2  terakhir muncullah Candra sang photographer amatir. Total ada 17 anak manusia yang berangkat dari Jakarta. Ada dua rekan  yang berangkat dari Cilegon (Yuri & Rizki). Sebenernya ada juga yg dari Bandung tapi mereka batalkan karena mereka berencana untuk membuat forum lagi. Awalnya saya rada canggung, maklum ini kali pertamanya saya join dengan anak2 backpacker, ternyata anak2 backpacker tuh kumpulan manusia aneh, gila, kreatif dan yg pasti keren...itu kesan pertama yg saya dapet dari mereka.
Jam menunjukkan pukul 20.15, kamipun bergegas masuk kedalam Kereta Api Serayu mencari tempat duduk yg sesuai dengan tiket yg kami beli. Wah...keretanya kosong, pasti bisa tidur pules neh, begitu kira2 yg ada dalam benak kami. Pukul 20.25 pluit panjang terdengar tanda si "Serayu" untuk meninggalkan Jakarta. Karna gerbong pertama masih kosong, kamipun hilir mudik, lalu lalang pontang panting nmencari kursi yang nyaman...lumayan bisa nyelonjor neh hahaha. Ketika 'Serayu' memasuki stasiun Pasar Senen barulah ratusan orang berbondong2 menyerbu 'Serayu' dan kamipun mulai tersingkir dan harus kembali pada kursi kami. Keonaran mulai terjadi, masing2 sibuk mencari posisi wenak selama perjalanan menuju Banjar. Maklum, menurut info yg kami dapat perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 10 jam-an. Selama perjalanan saya berfikir, aneh ya kereta api ekonomi, keretanya sendiri banyak banget berhentinya tapi pedagangnya kok gak ada berhentinya ya?. Sepanjang perjalanan saya banyak berdiskusi bareng Abel & Diana, sharing tempat2 eksotis yg pernah mereka singgahi...hwaaaaa, sepertinya saya mulai terjangkit virus backpack. Kereta pun terus melaju dan kamipun akhirnya terlelap ZzZz..Zzz...ZZzz...

Sabtu, 30 Oktober 2010

Menjelang Ciamis kami dikejutkan dengan sesosok makhluk menor bersenjatakan kecrekan bernyanyi  pake tambahan ewerrrr ewerrr, persis seperti pengamen yang naik dari stasiun Wates  kalo saya menumpang Senja atau Progo ke Jogja. Latifu ketakukan setengah mati sama makhluk itu, Anti yg paham soal itu akhirnya merogoh koceknya buat nyawer 'pekerja seni' itu. Serayu pun akhirnya mengantarkan kami ke Stasiun Banjar pada pukul 05.30 setelah kurang lebih 10 jam kami berkutat di perutnya. Baru saja menginjakkan kaki di Banjar kami langsung  diserbu oleh akang2 supir efl, tapi kami malahan menyerbu kamar mandi buat bersih2 sekaligus melakukan ritual dipagi hari...haiyaaahh. Sebelum meninggalkan stasiun Banjar tak lupa jiwa narsis kami memanggil secara alamiah dan dimulailah sesi foto2 :)
Selesai melaksanakan ritual pagi hari kamipun keluar stasiun mencari kendaraan menuju Pangandaran. Sebenarnya pas turun dari kereta kami sudah dikepung akang2 supir Elf tapi kitanya mah jual mahal soalnya harga yg dipatok masih terhitung mahal untuk ukuran kami2 yang berkantong seadanya. Setelah melakukan negosiasi yg alot kaya kerupuk kena angin akhirnya disetujui cukup bayar 350rb *criiing* dan Elf pun melaju...

Perjalanan dari Banjar menuju Pangandaran ternyata gak sebentar, butuh waktu sekitar 2 jam dengan jalan berkelok. Akibat posisi yg sangat dipaksakan saat dikereta banyak dari kami yg kembali tertidur dan mulailah terdengar orokan saling bersahutan mirip ayam berkokok. Saya sebenernya juga ikutan tidur tapi karena beberapa kali kepala kepentok besi lantaran jalan yg berliku akhirnya dengan kerelaan tingkat tinggi terbangun dan mencoba menikmati setiap kelokan. 2 jam berlalu dan kamipun tiba di Pangandaran,  tak lupa menjemput 2 rekan kami yg berangkat dari Cilegon (Yuri+Rizki). Waktunya cari penginapan...jiwa2 kere kami ternyata dapat menaklukan Pak Haji pemilik penginapan, cukup bayar 400rb untuk 6 kamar...saluuuttt buat anti+latifu sang negosiator. Abis dapet penginapan kita gak mau buang waktu, setelah mandi dan wangi kamipun bergegas memulai trip hari ini pake mobilnya akang Elf yg tadi nganter kita dari Banjar dengan tarif  400rb *criiing*. Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi, akang Elf sudah siap kamipun juga sudah siap...eh tiba2 Yuri sprint balik ke kamar buat menyelesaikan panggilan alam...huwahh tidaaaaaaakkk. 

Ready....Elf pun melaju menuju Green Canyon. Cijulang pun dilalui dan akhirnya setelah kurang lebih 1 jam bersama akang Elf sampe juga kita di GC. Sayangnya lagi musim ujan, jadi ainya gak berwarna hijau tosca tapi coklat kaya cappuccino. Untuk menuju GC kita perlu naek perahu karena jaraknya masih 3 km dengan waktu tempuh sekitar 30-45 menit. Isi perahu maksimal 5 orang dgn tarif 75rb/perahu. Karna gak muat satu perahu kamipun dibagi menjadi 4 kelompok. Saya kebagian serombongan dengan emak2, Diana, Abel, Mia, Yayu sama Reni...Rempong bo'...hahaha. Mesin perahu mulai dinyalakan dan perahu pun bergerak meninggalkan dermaga. Air yang berwarna coklat membuat perjalanan seperti biasa. O...cuma gini GC, apa menariknya? itu yg pertama kali muncul dipikiran saya.


Welcome

Ternyata saya 'SALAH'...Subhanallah, setelah 10 menit perjalanan baru saya tahu GC yg sesungguhnya. Indah banget, tebing2 kokoh dengan pahatan alam terpampang begitu indahnya....Luar biasa, keren banget gan. Perjalanan pun akan terus berada dalam cekungan dinding terjal di kanan kiri aliran sungai. Dinding2 tebing seolah sudah disajikan dengan keindahan tersendiri, ada bagian dimana ada dinding yang menyerupai goa yang atapnya runtuh. Selain itu di bagian atas  ada stalaktit2 yang masih dialiri tetesan air tanah yg menambah keelokan tempat ini.  Beberapa air terjun kecil di bagian kiri kanan yang begitu menawan juga langsung terlihat setelah beberapa meter kita berlayar..jiaaaah, bahasanya berlayar wkwkkkk. Dan perahupun bersandar, untuk dapat ke tebing kami harus berenang. Saya sangat berterima kasih kepada penemu Life Jacket so buat saya yg gak bisa berenang akhirnya bisa ngambang hahaha...Ada suka ada duka, kacamata yg selama 2 tahun ini menempel di wajah saya entah kenapa menghilang saat saya berpose di air terjun. Good bye my glasses...wish u rest in peace there, sayapun  harus tetap melanjutkan hidup tanpanya dan berharap kacamata itu  hanyut terbawa sampe ke sungai ciliwung *emang sungai cijulang sm ciliwung sodaraan? mereka gak mungkin ketemuan kan?* ya sudahlah, saya kubur harapan yg satu ini rapat2 hehehe.










Tidak mudah menuju tebing itu, batu2 dan tebing yg tajam beberapa kali menghantam tubuh kami tapi semua terbayar ketika kita berhasil menaklukan arus air dan berada pada tebing yg mengalir air terjun diatasnya. Perjuangan blm berakhir kawan, turun dan kembali berenang menuju perahu juga bukan hal yg mudah. Arus air yg besar akibat hujan besar yg terjadi beberapa hari ini seakan menguras energi kami *lebay.com*  tapi inilah kenikmatan yg tidak bisa diukur dgn apapun walau tubuh kami harus beradu dengan karang dan tebing yg tajam.






Lunch Time...

Lapaaaarrr, begitu kira2 jeritan kami semua saat itu. Dapet info dari tetangga sebelah katanya RM Tirta Bahari murah. Ya sudah, naluri backpackeran kami kembali diuji hahaha...Mulai pesen ah, ikan kakap merah bakar, cumi goreng tepung, udang saus tiram,  cah genjer dan kawan2nya. 5 menit berlalu...10 menit...tapi tak kunjung juga tuh makanan dateng. Arrrghhh....itu aja pesen gak pake lama apalagi pake lama, brapa hari baru sampe..

Akhirnya setelah bersabar 1/2 jam makanan pun tiba. Tanpa banyak bicara dan dalam tempo yg sesingkat2nya tuh makanan ludesssshhh. Kenyang, tapi saat liat tagihannya membuat kami melotot, melongo dan takjub....630rb, haaah? Mahal bener...backpacker kok makan seafood...oalah sob..sob..

Perut dah kenyang sekarang waktunya lanjut ke tujuan berikutnya...Batu Karas. Ternyata Batu Karas sudah deket dari Green Canyon jadi perjalanannya gak terlalu menghabiskan waktu banyak. Sampe di Batu Karas langsung kamipun langsung pose...




Pantai yang indah dengan debur2 ombak yang bersahabat. Deru ombak watu karas terus menggoda kami untuk segera bermain dan bercengkerama dengannya. Dan ombak2 itu pun berhasil...dengan segera kami menceburkan diri menikmati setiap hantaman dan hempasan ombak yang menerjang. Aldi, Arez, Tomo, Yuri, Latifu and Rizki sibuk belajar surfing. Karena saya gak jago berenang ya saya cuma bisa pasrah bermain dan bercanda dengan ombak2 genit itu saja hehehe. Amazing...Aldi bisa berpijak cukup lama di papan surfing, good job bro tapi sayang moment itu tidak diabadikan, jadi gak bisa pamer kan? hahaha. Gak puas nyemplung anti, latifu, tomo, nisa, ms yudi, erika kembali berulah dengan menunggangi banana boat. Beberapa kali mereka terpaksa minum oralit (aer laut,red) saat banana boat dijungkirbalikkan. Sebenernya kita mo cari sunset di Batu Hiu, tapi karena awan sepertinya menutupi cakrawala dan gak mungkin ktemu sunset so kami menghabiskan waktu di Batu Karas ini. Gak terasa udah jam 5 sore, kami rasa petualangan kami hari ini sudah cukup memuaskan. Kamipun kembali ke penginapan untuk mengumpulkan energi sebesar mungkin buat esok. Dalam perjalanan pulang hujan mengguyur wilayah Pangandaran dengan lebatnya, dan hasilnya hampir semua makhluk2 yg haus liburan ini terlelap dengan sendirinya.




Minggu, 31 Oktober 2010

Menjelang dini hari sudah terjadi kegaduhan, ternyata kamar sebelah udah siap2 nyari sunrise. Karna masih ngantuk saya tidur2an sebentar dan baru setelah jam 5 pagi keluar menyusul yg lain. Erika sama arez naek sepeda tandem, anti sama tomo, nisa sama mas yudi, candra sama aldi...saya sendiri lebih nyaman untuk bersepeda sendiri hehehe. Ktemu sama mas yudi, nisa, aldi, tomo, candra, anti di pantai timur. Sayangnya kita gak dapet sunrise, awan masih aja menutupi sang mentari. Jiwa2 narsis kembali muncul dengan sendirinya...dapat dilihat dari foto dibawah ini.


Balik ke penginapan, ternyata Arez, Erika, Tomo dan Opic mo pulang ke Jakarta pagi ini..bye friends, see u soon at Monas. Selanjutnya kita berangkat ke Cagar alam Pananjung. Akses menuju tempat itu bisa lewat daratan  dan bisa juga dengan menaiki perahu dan berlabuh di pantai pasir putih. Kami menggunakan alternatif kedua, naik perahu lagi hehehe. 

Ombaknya lumayan besar dan disepanjang perjalanan kami disuguhkan dengan pemandangan yang ruuuuaarr biasa. Beberapa kali perahu berhenti dan akang tukang perahu menjelaskan spot2 yg diangap punya mitos. Salah satunya mengenai awet muda, katanya kalo cuci muka di tempat ini bisa bikin awet muda...gitu katanya. Sayapun langsung mencelupkan tangan membasuh muka berharap wajah saya bisa berubah layaknya tom cruise hahaha...gmn? muka saya terlihat lebih cling kan?

akhirnya perahupun menepi...
 
Saatnya berpetualang...

Susur pantai
Sampai di pantai pasir putih kami disambut oleh pihak pengelola cagar alam plus dipalak bayar retribusi Rp.2,000.00/orang serta kumpulan guide yang menawarkan jasa guiding selama di lokasi cagar alam. Kalo jasa guide ini bisa diajak nego, itupun biasanya mereka pasang tarif per-orang bukan per-rombongan. Adanya monyet2 liar pun tak lupa menjadi poin menarik dari tempat ini. Just info ya sob, dilokasi cagar alam nggak ada orang jualan, jadi jangan lupa siapin bekel secukupnya. Trus kalo bawa makanan, makanannya  jangan ditenteng tapi masukin kedalam tas, monyet2 sini pada pinter2...tau siapa yg ngajarin mereka bisa merampas seenaknya kayak gitu ckckck.. Well, this is life man....gitu mungkin kata si monkey, mmmhh....jd mikir apa bener begitu yaks? Oiya, kalo mo foto bareng sama si monkey tinggal panggil aja monkeynya, kata si akang guide panggil aja kiss..kiss..kiss...nanti juga mereka pada datang. Coba ah, kiss..kiss.kiss...tapi kok si monkey cuek aja, jadi ragu sama si akang guide tadi.

First destination, kita menjelajah gua.
Ada gua Jepang, gua lanang, gua parat dan masih banyak lagi. Pokoknya seru dan keren2 gan. Saya lupa apa nama guanya, menurut info yang saya dapat gua ini merupakan tempat syutingnya mak lampir...ati2 bro, ditempat itu ada landaknya. Landak2 itu punya nama, tapi siapa yah? saya lupa, padahal abis dikasih tau sama akang guide hehehe. Tadinya landak2 itu cuma ada sepasang, karena faktor biologis mereka akhirnya beranak pinak di gua itu hehehe. Trus kalo bisa jangan lupa bawa senter, soalnya pas mau masuk gua sudah berkerumun tukang senter yg ngrentalin senter dgn tarif  5rb/senter. Kalo bawa sendiri kan lumayan irit goceng.



Lunch Time Part II...


Gak terasa udah jam 11 siang, it's lunch time...kamipun keluar dari lokasi cagar alam untuk melampiaskan nafsu makan kami. Kamipun lansgung mengadakan konferensi trapesium untuk mencari makanan murah (soalnya kami masih trauma dengan tragedi seafood 630rb). Eh liat gerobak gorengan+bajigur...ini dia, the real backpacker food hahaha. Tanpa banyak omong kita bajak tuh gorengan dan bajigur, cukup dengan 50rb saja kami sudah dipuaskan dengan kehangatan pisgor dan bajigur...mmmhh, yummmi...


Caving...done. Waktu yg kita punya gak banyak, mau ke air terjun apa snorkeling...pilihan yg sulit kawan hehehe. Akhirnya diputuskan kita ke air terjun dulu baru snorkeling. 

And the real adventure begin...

Kembali masuk ke lokasi cagar, pose lagi dan perjalanan panjang pun dimulai. 


 

Menurut informasi yg kami terima, untuk menuju air terjun dibutuhkan waktu 2 jam. Kami sih gak begitu percaya, soalnya air terjun itu terlihat sangat dekat ketika kami menuju pantai pasir putih dari pantai pangandaran. Awal perjalanan begitu mudah, hanya jalan datar dan sesekali kami harus melewati genangan air dan pohon tumbang. Tapi setelah 200 meter kami berjalan barulah terlihat medan yg sesungguhnya. Jalan setapak, menanjak, turunan, licin, bebatuan, semak2, pokoknya komplit.




Perjalanan yang tidak mudah kawan, beberapa kali kami harus terperosok, terpeleset dan terjatuh namun karena hal inilah kami menjadi semakin dekat. Rasa berbagi dan tolong menolong menjadi kunci dari perjalanan ini. Kadang kami terpisah jauh, tapi kami selalu meneriakkan "eiyooooo", sebagai tanda keberadaan posisi kami. Bila suara rekan2 yang berada dibelakang terdengar jauh berarti barisan depan harus menunggu sampai jarak antar kami tidak terlalu jauh. 
Look...we found grassland hahaha.  Kamipun melepaskan penat sejenak. Luarr biasa...kerenn tp sayang banyak kotoran rusa or banteng bececeran, ternyata kotoran rusa atawa banteng kayak kotoran sapi yah?...yaccckkk !!!!


Kembali melanjutkan perjalanan



akhir dari perjalanan panjang...
guys, we made it
ternyata bener2 2 jam loh...Good job dude
tinggal mikir gimana baliknya hahahaha


Detik menemukan air terjun
Chibi Pose
Berhasil berhasil....horeee !!!
Walau gak dapet snorkeling tapi saya bersyukur bisa menjejakkan kaki disitu.
Subhanallah.....

Kembali ke Jakarta, kami pun berpisah di terminal Pangandaran. Nice trip guys, can't wait for another trip hehehe.