Senin, 20 Juni 2011

Gempa, Kawan Baru dan Desa Sawarna

Ngetrip lagi, hehehe....kali ini ke Desa Sawarna di kabupaten Lebak, Banten. Berbekal ponsel yang mengaku semi pintar akhirnya saya kembali memergoki adanya thread di Forum Backpacker Indonesia mengenai Sawarna. Thread yang diprakarsai seorang Abie dari Bandung ini ternyata menarik banyak minat. Melihat begitu banyak respon yang hilir mudik berganti menandakan keantusiasan menuju Sawarna, sayapun akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan ekspedisi ini. Kamipun sepakat menentukan meeting point di KFC Pajajaran depan Botanical Squre Bogor Jum'at malam pukul 20.00.

Hari itu 10 Juni 2011

Selepas bekerja sayapun diantar seorang rekan ke Stasiun Gambir, saya berencana menumpang kereta api ke Bogor. Beli tiket, bayar 11rb…criiing dan Pakuan Ekspress pun melaju. Tiba juga di stasiun Bogor pukul ½ 8 malam setelah satu jam berdiri lantaran tidak ada tempat duduk yang kosong. Naek angkot 03 ke arah Baranangsiang bayar 3rb…criiing dan akhirnya terlihat dengan jelas segerombolan makhluk dengan ransel plus tas kecil bergelayut dipundak duduk dengan rusuhnya di KFC. Meet and greet…Iwan, Ambar, Syarip, Esthi, Zaki, Agung, Widhi, Lulu, Cendy, Huda, Frida, Surya, Dedi plus Abah. Sambil menunggu rekan kami yang baru aja cari makan Bobby dan Tata kami pun pose di dalam terminal. Karna saya masih mengenakan batik dan belum sempat mengganti baju, sayapun dipanggil 'Pak Kades' hahaha. Tanpa buang waktu sayapun langsung berdoa semoga tahun depan saya benar2 jadi seorang KADES dan sudah ada Bu KADES di samping saya...amiiiiin.
Tata plus Boby akhirnya tiba, saatnya bus melaju meninggalkan Bogor dan bayar ongkos bis 20rb, criiiing. Well, semuanya berjalan sempurna sampai akhirnya kejadian ban bocor terjadi. Kamipun segera turun dan melepas penat sejenak. Selesai ban terpasang bus pun kembali berlari...namun ban serep yang tadi terpasang kembali berulah, kami pun turun kembali...padahal sudah deket Pelabuhan Ratu tuh. Untuk membius kami agar kami tidak jenuh sang awak bus pun memperdengarkan lagu-lagu yang membuat kami tersenyum, 'sobat kecil yang mengharukan' Doel Sumbang hahaha. Bus yang ugal-ugalan diawal karena kesalahan teknis akhirnya dibalap 2x oleh bus MGI. Bogor-Pelabuhan Ratu yang biasanya dapat ditempuh sekitar 2-3 jam menjadi 4 jam lebih...huffft.

 
Buspun akhirnya landing tepat didepan kantornya Dita di Jln Siliwangi Pelabuhan Ratu pukul 01.15 wib. Dita yang super duper baik menawari tempat kerjanya untuk kami singgahi untuk sekedar bermalam. Dua kotak martabak menyambut kami dengan hangatnya dan tanpa basa basi martabak tersebut sudah berpindah ke mulut kami  ;)


Abie, rekan kami yang berangkat dari Bandung bersama Dea, Dita dan Opik akhirnya tiba di Pelabuhan Ratu pukul 02.03. Kamipun berusaha melepas lelah dengan cara bergeletak berantakan mencoba mencari posisi wenak, sebagian sudah terkapar namun sebagian lagi masih terlibat pembicaraan seru. Sampai akhirnya azan Subuhpun berkumandang....

Selesai menunaikan kewajiban sebagian dari kami langsung bergegas menuju pantai sembari menanti datangnya fajar. 
 




Setelah melewati pasar ikan, kantor polisi dan jembatan Cibau kamipun tiba di pantai. Puas menghirup udara pantai kamipun kembali ketempat Dita. Dalam perjalanan pulang mata kami terpaku pada sebuah gerobak yang bertuliskan 'Bubur Ayam', tanpa dikomando bocah-bocah lapar ini langsung menjarah isi gerobak bubur ayam tersebut. Selesai menjarah tak lupa kamipun membayar bubur ayam yang sudah mencapai perut dengan uang 5rb...criiiing.

Mengingat jam operasional kendaraan yang menuju dan kearah Sawarna hanya brangkat pagi sekitar pukul 8.00 dan sore pukul 14.00 tentu saja membuat Dita memesan sebuah ELF untuk membawa kami ke Sawarna.  Sayangnya Dita tidak bisa ikut tapi kami yakin jiwanya Dita ikut ngegembel bersama kami ke Sawarna ;) ELF pun akhirnya meninggalkan terminal Pelabuhan Ratu.  Menyusuri pantai, tanjakan, belokan dan jalan berlubang membuat kami terombang ambing layaknya sedang menunggang odong-odong. Akang supir ELF tiba-tiba menghentikan kendaraannya di Pantai Karang Hawu. Bisa dibayangkan bila anak-anak ini langsung bersorak riuh dan segera berhamburan menuju pantai mencari spot terbaik untuk jeprat jepret sekaligus bernarsis ria. Setelah puas menikmati pantai Karang Hawu, ELF pun kembali membawa kami ke desa Sawarna. Lama perjalanan kurang lebih 1 jam, sampai akhirnya si ELF dengan mulusnya mendarat pada pintu masuk desa Sawarna.





Papan nama Desa Sawarna akan menyambut kita disertai dengan biaya retribusi sebesar 2rb..criing. Memasuki Desa Sawarna jembatan goyang sudah berada didepan mata, saatnya bergoyang hahaha. Kami menginap di Sawarna Beach House. Sampe guest house langsung beberes dan makaaannn....

Pukul 14.30 kami memulai treking kami menyusuri Desa Sawarna. Spot pertama kami adalah Goa Lalay. Lalay dalam bahasa Sunda artinya kelelawar, jadi bisa diartikan kalau Goa Lalay = Goa Kelelawar. 



Menuju Goa Lalay kita akan melewati sungai dan areal persawahan yang menghijau. Saat kami melintasi sungai terlihat anak-anak desa Sawarna yang sedang asyik bermain air sambil sesekali beratraksi dengan menaiki sebatang pohon kelapa yang tinggal setengah dan meloncat kearah sungai. Rada ngeri juga, soalnya saya khawatir terdapat batu-batu tajam didalam sungai tersebut tapi sepertinya tidak, mereka sudah terbiasa dan terlampau menikmatinya..ya sudahlah.







Menyusuri areal persawahan..

Mata kamipun dipaksa melihat hijaunya padi yang membentang. Terlihat masyarakat Sawarna yang sedang sibuk dengan  sawah garapannya sambil sesekali tersenyum menyapa kami ketika kami berpapasan dengan mereka. 





Setelah menempuh perjalanan yang cukup melelahkan kamipun tiba di Goa Lalay. Goa Lalay tidak tersentuh matahari, maka itu jangan lupa untuk mengikutsertakan senter kedalam ransel anda.

Memasuki mulut goa dan senterpun mulai dinyalakan. Pada bibir goa kita langsung menemui aliran air yang mengalir dari dalam goa. Jalan masuk yang lumayan sempit dan aliran air yang mencapai lutut membuat kami tertantang untuk terus masuk jauh kedalam. Mengingat tidak adanya asupan matahari kedalam goa membuat isi goa tidak bisa secara detail kami nikmati. Masuk lebih dalam dan kita akan menempuh medan becek, licin, berlumpur dan berair, sampai akhirnya langkah kami terhenti lantaran dinding yang menghalangi perjalanan. Sebenarnya terdapat jalan kecil yang hanya muat 1 orang saja bila kita ingn terus menyusuri goa Lalay ini, namun kami putuskan untuk kembali. Putar balik, kembali menghadapi jalan becek, terpeleset, terjatuh dan kembali basah. Satu paket yang menyenangkan untuk menikmati Goa Lalay ini hahaha


Melanjutkan perjalanan...
Susur pantai menuju Lagoon Pari


  

 




Dan akhirnya menikmati sunset di Tanjung Layar....







Puas mencumbui sunset di Tanjung Layar kamipun kembali ke homestay dan sharing pengalaman kami menikmati keindahan Indonesia, Indonesia itu indah kawan.

Minggu, 12 Juni 2011

Pagi itu saya tidak ikut mencari sunrise di Lagoon Pari, saya masih terkapar dikamar dengan selimut menutupi sebagian tubuh saya setelah semalaman berbincang dengan Lulu, Abah, Syarif, Fitri dan Bobby. Harum nasi goreng akhirnya membuat saya beranjak dari tempat tidur untuk segera menghampirinya. Kamipun segera menyendok menu sarapan kami dan sesekali berbincang tentang kejadian-kejadian kemarin.
Waktunya mandi di pantai, dan kamipun berbondong-bondong menceburkan diri ke pantai Ciantir ini.


"Cepet keluar, ada gempa !!!", begitu kira-kira yang saya dengar dari bibir pantai. Segera kami meninggalkan ombak-ombak liar itu dan menuju ke pantai, ternyata gempa yang barusan terjadi hanya sebentar dan tanpa ragu kamipun segera menceburkan diri kembali ke pantai.


Selesai sudah kami menghabiskan waktu di Sawarna ini, saatnya kembali Jakarta. 



Ban bocor, Doel Sumbang, kawan baru, gempa dadakan dan indahnya Sawarna...Mmhh,benar-benar satu pengalaman yang unik kawan. Well, See u guys in the next trip.

Note: Foto dari kamera Iwan, Zaki, Fitri, Agung, koleksi pribadi dan rekan lainnya.

Minggu, 01 Mei 2011

Menghilang Sejenak ke Bali

Horrrayyy...Akhirnya saya bisa kembali bercengkerama dengan laptop bututku dan berhasil membuka blog ini setelah linglung mengutakatik passwordnya. Faktor usia ternyata punya pengaruh cukup besar terhadap daya ingat, saya sendiri membuktikannya hahahaaa. Berhubung masih segar dalam ingatan, release soal nekat ke Bali ah.
and the story goes...

Berawal dari ide pengen liburan yang murah meriah akhirnya saya hunting tiket promo buat plesiran. Bali...yupz, kayaknya seru tuh ke Bali naik pesawat pula hehehe. Buka web maskapai penerbangan yang ada di Indonesia, compare harga dan akhirnya mouse saya tertuju pada harga miringnya air asia. And finally saya booking tiket buat 2 orang karna temen sekantor katanya juga ingin ikutan ke Bali. Beli tiketnya sih udah dari bulan Januari tapi berangkatnya baru bulan Mei, biasalah...resiko cari harga miring pontang panting. Lumayankan 499rb bisa PP JKT-DPS...criiing.

Akhir Januari temen saya resign dan dia batal ikut ke Bali, hadooooh...cenat cenut cenat cenut lantaran bakalan bingung kalo saya nekad sendirian kesana. Untungnya dengan segala tipu muslihat saya racuni adik saya untuk bergabung dengan saya. Gayungpun bersambut, akhirnya adik saya sepakat ikut dan membawa pacarnya untuk ikutan nimbrung. Ga papalah, makin banyak makin rame hehehe.

15 April 2011

Setelah izin 1/2 hari sayapun langsung bergegas menuju Pool DAMRI di samping Botani Square, kebetulan saya memang sedang ada tugas di Bogor. Pesawat take off pukul 16.30 tp DAMRI yg saya tumpangi baru melaju jam 13.40, bisa ngejar gak yah? Jam 15.15 DAMRI masih terjebak di tol dalam kota, mana tetangga sebelah uring2an lantaran pesawat yang dia tumpangi berangkat pukul 16.00 membuat saya semakin khusu' berdoa :D. Setelah mulut komat kamit teriring doa akhirnya tiba juga saya di terminal 3A Soetta airport pukul 16.00, trus kabar tetangga sebelah gimana yah? bodo ah, yang penting saya gak telat...hehehe.

Mau check in tp adik saya Desi dan Koko belum kelihatan batang hidungnya. Aaarghh...dibela2in wiridan sepanjang jalan malah gak jadi, hiks hiks hiks. Tetotettetototet...sms dari Desi katanya baru masuk tol Kapuk, hadooohhh...roman2nya gagal nih ke Balinya, ya sudahlah mo gimana lagi. 16.15 masih belum ada tanda2 kedatangan 2 makhluk itu, namun saat kepasrahan saya sudah berada pada titik yang tidak wajar munculah 2 makhluk tak berdosa itu senyum sambil berlari2 kecil. Walau masih rada bt tapi perlahan dan pasti senyum saya merekah setelah kami masih bisa boarding setelah bayar airport tax Rp. 40.000, criiingg. Lari2 kaya si Kevin home alone takut ketinggalan dan ternyata sodara-sodara tuh pesawat delay...gubraxx!!! Jiaahhh, nunggu lagihhhhh....

Setelah berhasil mengumpulkan nafas lantaran sprint yang sia2 tadi kami pun menuju pesawat dan duduk dengan manis. Pesawat pun mulai melaju dan lepas landas...wuzzzzz, tau2 kami sudah berada diatas dan merasa bisa bercengkerama dengan awan. Subhanallah, bumi begitu kecil dan begitu takjubnya saya pun atas ciptaan sang khalik ini.


Baliiiiiii....here we come. Setelah hampir 2 jam kami berada didalam si burung besi kamipun akhirnya dapat menikmati udara Bali untuk pertama kalinya. Oiya sebelum ke Bali kami sudah coba tanya-tanya ke mbah google soal Bali. Lebih banyak sih ke anak2 backpacker or kaskus. Karna ini kali pertamanya kami ke Bali kamipun sudah menyiapkan segala sesuatunya mulai dari Hotel sampai rental kendaraan, takut blangsak disini. Hotel sudah kami booking via internet, kami dapat di daerah Legian deket banget sama pantai. Kalo mo irit sih bisa cari di Jl Poppies kuta, tapi karna kami sampe Balinya udah malem kayaknya gak efisien kalo pake acara hunting hotel lagi. Nyetop taxi diluar bandara kena 35rb, lebih murah dibanding taxi bandara yang masang tarif 50rb.

Sampe hotel sempet shock karna gak liat ada turis lokal, isinya bule2 semua dengan pakaian minim..what a great view hahaaha. Check in dapet kamar 509. Masuk kamar dan kamipun langsung terkapar tanpa berfikir untuk mandi hehehe. Kami menginap di Hotel Sayang Maha Mertha, lumayanlah...kamar mandinya bersih cuma 414rb/2 malam untuk kami bertiga including breakfast. Tetangganya bule semua, soalnya udah kita pantau dari balkon kamar. Awalnya khawatir karna mayoritas bule bakalan berisik sepanjang malam ternyata suasana malam lumayan kondusif, jadi kami bisa tidur puas. Akibat kekhawatiran akan makanan halal disini makanya sebelum meninggalkan airport kami langsung memborong paket nasinya MCD, itulah makan malam kami.

Sekamar bertiga...muhrim kok


Sabtu pagi..
ke pantai ah, tapi berhubung gerimis jadi agak siangan jalan kesana. Keluar hotel dan kami hanya muter2 gak jelas di area itu dan kamipun belum bersua dengan pantai. Jalan diseputaran Legian di Lebak Bane lumayan sempit dan isinya cuma cafe, butik plus toko2 souvenir. Setelah betis mulai beras padat akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel. Sampe hotel langsung ambil piring, sarapan baru masuk kamar. Buru-buru mandi karna jam 09.00 kami akan dijemput untuk memulai petualangan di Bali. Kami sih sudah ngrental mobil, 300rb/hari termasuk sopir dan BBM. Emang rada kemahalan untuk ukuran estilo tp kami pikir waktu kita gak banyak, dan terlalu sayang dibuang percuma...That is the point.




 
Jam 9 lewat 10, Pak Nyoman sudah siap dengan estilo hitamnya dan target kita hari ini adalah Pura Taman Ayun, Bedugul (ulun danu), Alas Kedaton dan Sunset di tanah lot.
Pura Taman Ayun gak terlalu jauh dari kuta, sekitar 45 menitan. Melewati Kerobokan dan Mengwi. Tibalah kami di Taman Ayun, tiketnya murah kok cuma 3000/orang. Pura Taman Ayun hampir sama dengan kebanyakan pura yang ada di Bali bedanya pura ini dikelilingi parit kecil yang konon sering dilalui oleh dayang-dayang istana dengan menggunakan perahu kecil. Di tengahnya terdapat tugu air mancur yang mengarah ke 9 mata angin. Terdapat menara yaitu bale kul-kul dimana kita dapat naik ke atasnya, dan melihat pemandangan di sekitar lokasi dengan mudah.




Melanjutkan perjalanan...
Setelah ini lanjut ke Bedugul, mencoba menikmati suasana Bali yang tidak melulu dijejali dengan pantai dan watersport. Perjalanan menuju Danau Bratan dan Pura Ulun Danu di Bedugul kurang lebih 1 jam-an. Kira-kira mirip dipuncaklah. Pura Ulun Danu Bratan atau Bratan Pura merupakan sebuah candi air besar di Bali. Candi air lainnya menjadi Pura Ulun Danu Batur. Kompleks candi ini terletak di tepi barat laut Danau Bratan di pegunungan dekat Bedugul. Candi ini sebenarnya digunakan untuk upacara persembahan untuk Dewi Danu, dewi air, danau dan sungai. 








Setelah puas pose gila2an di Bedugul kamipun segera melanjutkan perjalanan ke Alas Kedaton. Gak berasa sudah jam 1 siang, sudah waktunya perut diisi neh, untungnya disekitar Bedugul banyak warung muslim yang menyajikan makanan halal dengan moto 3M 'murah meriah muntah'. Kami hanya mengeluarkan 28ribu untuk 3 org dengan menu soto ayam plus es teh manis, murah kan? 
Lanjut ...

Akhirnya kamipun tiba di Alas Kedaton. Entah memang karena sudah sore atau entah kenapa Alas Kedaton sepi hari itu. Sebelumnya Pak Nyoman memang menginformasikan kami pasti akan bertemu dengan sekumpulan monyet dan kelelawar raksasa, Pak Nyoman pun mengingatkan kami agar berhati2. Selain itu akan ada Mbok2 pemandu yang nanti akan mengantar kita berkeliling dan ujung2nya akan mengantarkan kita ke galeri dagangannya, free sih cuma mendingan jadi dermawan sedikitlah sebagai apresiasi kita buat si mbok untuk tenaganya mengahalau monyet2 badung itu.





Haaah, sudah jam 4 sore? ayo Pak Nyoman kita let's go ke Tanah Lot. Perjalanan ke Tanah Lot dari Alas Kedaton sudah tidak terlampau jauh. Menjelang pukul 1/2 5 kamipun tiba disana. Bayar tiket masuk Rp.7.500...criiing. Subhanallah indah nian tempat ini, sayangnya kami tidak melihat sunset lantaran awan  terus saja bergelayut pada sang mentari, huuuftt.




Karna cuaca di tanah lot saat itu rada mendung banyak foto2 yang hasilnya jauh dari kata-kata bagus, maklum amatiran yang asal jepret. Tapi kami sangat bersyukur bisa menikmati indahnya secuil surga yang ada di muka bumi ini, dan hal tersebut akan kami simpan di memori kami. Kembali menemui Pak Nyoman untuk berbalik arah menuju hotel. Sudah pukul 7 malem ternyata...estillo hitampun melaju meninggalkan tanah lot.

Pukul 22.51 WITA
Lapeeerrr...cari makan ah, sekalian cari pantai mumpung cerah. Kamipun berjalan menyusuri jalan sambil berkonsentrasi memburu suara debur ombak. Suara ombak semakin terdengar menandakan kami sudah mendekati pantai. Finally, the beach...ruaar biasa dengan taburan pasir halusnya. Kamipun langsung menggeletakkan diri pasrah diatas pasir lembut menikmati gelitikan angin dengan pandangan keatas, subhanallah.
Khawatir ketiduran kamipun memaksa badan kami untuk bangun dan bergerak pulang. Dalam perjalan pulang terlihat dengan jelas warung padang, beli 3 porsi nasi+telur+perkedel+krupuk abis 24 ribu...criiing. Sampe hotel tergelatak, terkapar dan Zzzzz..zzZZ.


Minggu, 16 April 2011


Ada yang beda disini, gak terdengar azan subuh seperti di Jakarta hehehe. Jadi rada kesiangan ngadep-Nya ;). Back to the beach and bergumul dengan air. Legian cantik dimalam hari, pas pagi...ckckckck, banyak sampah !!! Lari-lari kaya film baywatch and alhasil sandal Desi hanyut tersapu ombak Legian entah dibawa kemana. Terpaksa nyeker sampe hotel, tapi dengan bengisnya dia sita sandalnya Koko...Cadassss !!!

Setelah puas menjamah pantai yang sudah ternoda dengan sekumpulan sampah, kami pun kembali ke hotel untuk packing. Pukul 09.30 kami baru turun untuk checkout setelah Pak Nyoman menunggu kami setengah jam, mav pak nunggu lama..maklum ubur2, jadi kalo air bawaannya pengen nyelem mulu.

Perjalanan dilanjutkan ke GWK (Garuda Wisnu Kencana), siang itu GWK puanasnya minta ampun. Buru-buru beli tiket masuk, bayar 80rb buat tiket plus parkir..harga tiket perorang 25rb gan, lumayan mahal yaks :(. Langsung masuk  ballroom pementasan untuk melihat tari barong sekalian ngadem. Selesai menyaksikan pertunjukan tari barong kamipun mulai mengeksplor GWK dari Patung Whisnu sampe padang luas untuk permainan atv dan entah apa namanya permainan yang pake roda dua itu yang ada tuas kemudi dan dikendarai berdiri...???!!!

Karna GWK merupakan bukit yang kapur yang dibelah dan dibuat sedemikian rupa jadi kawasan ini masih terkesan angker. Oiya, ada juga pemutaran film mengenai historikal GWK, mulai dari tahap perencanaan, penolakan sampai dengan pembangunannya. 



 


Kembali bergegas menuju tempat berikutnya, Pura Uluwatu. Jalan sempit dan kadang berlubang kami temui dalam perjalanan itu. Panas yang  menyoroti Bali kala itu membuat kami untuk terus mampir ke warung sekedar membeli minuman dingin. Setelah menempuh perjalanan sekitar 40 menitan kamipun tiba di Uluwatu. Kembali bibir kami berdecak kagum atas indahnya ujung uluwatu ini. Panas tak membuat kami lemah untuk mengekspolre uluwatu. Bayar 3rb perorang...criiing dan kamipun masuk kekawasan pura yang terletak di bagian barat laut pulau Bali dengan menggunakan selendang yang diberikan petugas. Pura ini seperti bertengger di ujung tebing batu yang sangat tinggi dan curam, dengan pemandangan lautnya dibawah berwarna biru bersih dan hantaman ombak yang menghasilkan buih-buih putih yang sangat cantik. Informasi saja, mohon kacamata dilepas dan perhatikan tas dan barang bawaan soalnya monyet-monyet disini lebih agresif dan nakalnya minta ampun. Walau rada buram lantaran gak pake kacamata tapi saya tetap menikmati keindahan Uluwatu.




Berhubung disini sedang ada ritual dan upacara adat jadi kita memang tidak boleh masuk kedalam pura. Btw, ada juga tuh yang lagi foto prewed..jadi berfikir untuk memasukan tempat ini kedalam list lokasi prewed saya nantinya...jiaaaahh wkwkwkwkkk.


Berburu dengan waktu, sudah pukul 15.30. Masih harus berburu dreamland sebelum kami menyudahi pengalaman di Bali ini. Lokasinya di Pecatu, masuk kawasan elit entah apa namanya daerah ini. Menurut Pa' Nyoman dreamland ada 2 versi sebelah barat dan timur, memang masih berada pada satu kawasan. Bedanya dreamland yang kami kunjungi free, cuma bayar 5rb untuk parkir mobil sedangan yang satu lagi kalo gak salah bayar 75rb dengan fasilitas buffet dan pantai yang lebih eksotis (katanya sih begitu...hehehe).
 
  

Kamipun menyudahi perjalanan kali ini, lain waktu kita menjelajahi Bali timur dan utara hehehe. Menuju Bandara Ngurahrai, dan tak lupa berterima kasih kepada Pa' Nyoman yang dengan sabar dan baiknya mengantarkan anak2 lucu ini berkeliling Bali :)


Kembali ke Jakarta
kembali menghadapi realita, masuk kerja lagi, dateline lagi...

Kamis, 03 Februari 2011

Daughtry - Home (Acoustic)




Home

I'm staring out into the night,
Trying to hide the pain.
I'm going to the place where love
And feeling good don't ever cost a thing.
And the pain you feel's a different kind of pain.

I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
I'm not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don't regret this life I chose for me.
But these places and these faces are getting old
So I'm going home.
Well I'm going home.

The miles are getting longer, it seems,
The closer I get to you.
I've not always been the best man or friend for you.
But your love, remains true.
And I don't know why.
You always seem to give me another try.

So I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
I'm not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don't regret this life I chose for me.
But these places and these faces are getting old.

Be careful what you wish for,
'Cause you just might get it all.
You just might get it all,
And then some you don't want.
Be careful what you wish for,
'Cause you just might get it all.
You just might get it all, yeah.

Oh, well I'm going home,
Back to the place where I belong,
And where your love has always been enough for me.
I'm not running from.
No, I think you got me all wrong.
I don't regret this life I chose for me.
But these places and these faces are getting old.
I said these places and these faces are getting old.
So I'm going home.
I'm going home.