Senin, 01 Oktober 2012

Lost in Singapore...

Ke Singapore cuma 20rb,-? Bisa kok, saya saksi hidupnya.  Meskipun ujung2nya saya harus membayar 300rb PP karena banyak embel-embel biaya lain yang perlu dibayar (bukan Airasia kalo begitu hahahaha)…tapi saya pikir untuk tiket pesawat PP keluar negri, biaya segitu bisa ditolerirlah walaupun waktu keberangkatan masih luaaamaa pisaaaannn.

Setelah sekitar 9 bulan dari tanggal booking akhirnya hari itu datang juga. Ribet ngurus passport sebulan sebelum keberangkatan, nukerin rupiah ke dollar, googling soal Singapore sampe beli bukunya Claudia Kaunang yang bisa ke Singapore cuma dengan 500rb. Saya tidak sendiri, adik saya Desi ‘ciplook’ dengan cerianya nimbrung dalam perngetripan kali ini. Yess…saya berdua adik  mulai menyerahkan passport ke petugas imigrasi dan dengan terpaksanya 150K lenyap sebagai upeti airport tax. Saat berada di imigrasi petugas bandara ga tanya macem-macem tuh, lolos-lolos aja tapi air minum yang saya selipkan didalam tas terdeteksi dan dipaksa keluar dari dalam tas (sedikit tips, air mineral di Singapore mahal loh…siapin aja botol minum dari rumah trus diisi di Bandara yang gratis). Stempel pertama pun mendarat dengan mulusnya di passport saya dan seketika itu saya bergumam, “Horrraayy…akhirnya passport saya udah gak ‘perawan’ lagi”.

Saya memang mengambil penerbangan malam, bukan karena maksud apa-apa tapi karena pada jam segitulah penerbangan yang paling murah. Sebelumnya saya juga sudah membooking kamar di Traveler Inn dan deposit 10 SGD, jadi ketika sampai Singapore dan ditanya dimana kami tinggal, kami sudah punya jawaban yang bisa dipastikan 100 % bener :p

Pengeras suara terdengar nyaring dan apa yang terjadi sodara-sodara? Yuppzzz, delay…!!!! Selamat yah Gum, alamat sampe Singapore tengah malam loh. Demi ke luar negri kami tetap ceria menunggu dan menanti sembari mengisi perut kami dengan nasi kotak yang diberikan cuma-cuma dari pihak Airasia (lumayan bonus makan malam). Sampai pada ketika tuh toa berkoar dan menginfokan penerbangan ke Singapore siap diberangkatkan, dua bocah ini dengan sumringahnya mulai berjalan menuju gate dan sudah membayangkan kesasar disana.

2 jam pun berlalu, dan yippppiiiiii…..Changi International Airport. Bandara disini mewah banget, maklum biasa maen di Bandara dalam negri jadi berasa asing hehehehe. Bule seliweran dimana-mana, etnis Tionghoa, Arab dan India juga bececeran disini selain orang Melayu tentunya. Lantaran delay akhirnya kami tiba menjelang tengah malam. Pihak hostel sebelumnya juga sudah menginfokan bahwa hostel tidak buka 24 jam dan bila kita check in diatas jam 11 malam maka kita akan dikenakan charge 5 SGD/person. Gini caranya bakalan bangkrut, akhirnya saya mengambil keputusan untuk cancel menginap disana dan mulai mencari tempat yang nyaman disudut-sudut bandara untuk menginap. Mulai merebahkan badan dikursi-kursi bandara dan mencoba pijat gratis namun tampaknya tempat tersebut kami rasa masih kurang nyaman. Akhirnya kami menemukan prayer room yang terletak dilantai dasar. Sekalian sholat Isya dan mulai deh gelar sarung buat selimut. AC di bandara dingin bener euy, sleeping bag sepertinya berguna disini.






Pagi itu Singapore diguyur hujan, tidak lebat memang namun mendung masih saja menggelayuti langit Singapore. Jadi dengan terpaksanya kami menunggu hingga hujan mulai mereda. Setelah langit mulai terlihat cerah. kamipun mulai melangkah meninggalkan bandara ini menuju stasiun MRT.

Menuju imigrasi dan lolos setelah gak mudeng saat petugas nanya pake bahasa Singlish-nya nanya tempat kami meninap. Untungnya kami sudah book di Jakarta jadi dengan terbata-bata kami jawab pertanyaan petugas imigrasi bandara tersebut. Sempat kepikiran untuk mengikuti free city viewing di bandara, namun ternyata kapasitasnya sudah tidak memungkinkan akhirnya kamipun langsung beranjak menuju stasiun MRT. Well, this is our first time...jadi harap maklum kalo kita sangat ndeso. Beli tiket aja ribet, semua serba mesin dan mendadak jadi bego hahahaha. Untungnya petugas tiket bisa berbahasa melayu, jadi kami cukup mudah untuk berkomunikasi.

Sebenernya simple, karena pada mesin sangat jelas petunjuknya. Kita hanya tinggal memilih tujuan kita kemudian memasukkan uang kedalam mesin dan criiiing...keluar deh tiketnya.

Disini jadwalnya ontime banget, entah pas kebetulan ato emang ontime yah? hahahaha. Frekuensinya banyak dan keretanya nyaman. Andai saja Jakarta punya sistem dan moda transportasi yang terintegrasi dengan baik disini, pastinya ga akan ada cerita lagi dimana saya harus menunggu datangnya busway berjam-jam atau bersedak-desakan didalam kereta atau bermacet-macet ria di angkot. Ya sudahlah, semoga dengan terpilihnya Jokowi bisa menghapus cerita-cerita saya diatas hahahaha *mendadak jadi jurkam.


Lupakanlah tentang transportasi di Jakarta...kami turun di stasiun Bugis karena rencananya kami akan menginap di ABC Backpacker hostel di Jl Kubor. Sempet nyasar-nyasar karena salah ambil jalan tapi malahan ketemu sama bangunan-bangunan yang keren. Gereja St Andrew, Singapore Art Museum dan entah apa nama bangunan yang kami lewati tadi. Artistik, unik dan menarik...cocok buat kalian yang hobby jeprat-jepret.




Tiba dihostel...
Mandi, istirahat sebentar trus mulai ngelayap di Singapore.



Mulai kembali perjalanan, kali ini destinasinya adalah Sentosa Island. Kali ini kami ga beli tiket ketengan, tapi kami beli Singapore Tourist Pass di Stasiun Bugis. Bayar 10 SGD plus 10 SGD (deposit yang bisa ditukarkan kembali), kamipun siap berkeliling negara ini tanpa khawatir bayar MRT/bus lagi.

Sentosa Island...

Ga perlu takut kesasar, disini petunjuk arah dan kendaraan terfasilitasi dengan baik. Jadi cukup pastikan kita mau kemana, liat peta wisatanya dan silahkan menikmati perjalanan, hehehehe. Disini emang surganya belanja kali yah, mall-mall mewah beterbaran disegara penjuru, bahkan di stasiun seperti di Bugis dan HarbourFront bisa dikatakan menarik. Belum lagi didaerah Orchard...weleeehhh weleeehh...bejejer mall-mall keren, sayangnya kami tak tertarik hahaahaha *inget isi dompet.








Puas dengan Sentosa, rencananya kami hendak mengunjungi ikon-nya Singapore...patung Merlion. Ga afdol ke Singapore kalo gak berfose disana. Kembali bergumul dengan MRT dan turunlah kami di City Hall. Mulai mengeksplore daerah ini dan gedung-gedung pencakar langit dengan arsitektur unik mulai memenuhi indra penglihatan kami.

Memasuki esplenade, dan kata-kata yang terucap cuma..keren...!!! *lebaynya kumat. Penampakan dalamnya banyak ga ke foto euy...






Lanjutt....
Nampak dari kejauhan Skypark dan Singapore Flyer beserta bangunan lainnya.




Tiba di Merlion Park...horrayy...




Menikmati senja di Marina Bay dan  berlayar menyusuri Singapore River...




Sebenarnya belum puas rasanya untuk menyusuri daerah ini, namun apa daya kami harus ke Little India untuk beli oleh-oleh di Mustafa Center. memasuki Little India kami serasa di India beneran, kanan kiri orang-orang mirip Kajol dan Sah ru Khan lalu lalang disini. Musik yang energik dan bau-bau yang menurut saya agak aneh menyeruak disekitar kawasan ini. Sesekali kami bertanya pada warga dsana dengan English yang terbata-bata, sampe sampe adik saya (Desi) memanggil orang disana dengan sebutan "Mas", bukan "Sir or Miss"...ya jelas saja mereka ga ada yang nengok...hahahaha, aya aya wae.

Penampakan di Little India ga sempat kami abadikan, kendala waktu yang sudah mulai larut malam dan kaki yang sudah mati rasa karena seharian berjalan. Beli oleh-oleh dan kembali ke hostel.

Esoknya kami harus kembali ke Jakarta. Menyusuri jalan Bugis, menikmati suasana pagi di sekitaran Victoria street dan sesekali terlihat terdengar obrolan khas orang Jakarta ketika kami berpapasan dengan beberapa traveler. Singapore, negara kecil yang patut diacungi jempol, sudah bersih, teratur, tertib, trasnportasi mudah, sayangnya terlalu Muahaall untuk saya berlama-lama disini hahahaha.

 

Sabtu, 29 September 2012

Meraba Merbabu 3142 Mdpl

Mendadak terlintas untuk melupakan sejenak tumpukan-tumpukan dokumen yang tak kunjung menyusut di meja kerja saya. Mengabaikan kemacetan Jakarta yang setiap hari harus saya telan, mengacuhkan komputer dan laptop yang selalu saya "kerjai". Saatnya kembali mencumbu alam, kembali merasakan hangatnya mentari, merasakan segarnya air pegunungan...dan Merbabulah yang saya pikir bisa membuai dan melenakan saya dengan keanggunannya itu.

Secara administratif, kawasan Taman Nasional Gunung Merbabu terletak di 3 kabupaten, yaitu : Kabupaten Magelang, seluas 2.160 ha, Kabupaten Semarang, seluas 1.150 ha, Kabupaten Boyolali, seluas 2.415 ha (sumber dari merbabunationalpark.org). Pendakian Merbabu bisa dilalui melalui beberapa jalur, bisa melewati jalur Tekelan, Cuntel, Selo atau Wekas. Kali ini kami memilih jalur Wekas, jalur Wekas di mulai dari Desa Kaponan, Magelang. Dari Kaponan kami harus berjalan kaki menuju Desa Wekas, sebenarnya ada alternatif ojek dengan tarif 15K (lumayan mengirit tenaga sampai dengan pos pendaftaran). Sebenernya bukan lantaran 15K kami putuskan untuk berjalan, namun kami pikir kami akan mendapatkan cerita menarik dari hasil kami berjalan. Benar saja, mulai dari minta wortel dan daun seledri dari warga sekitar, menumpang mobil pick up yang mengantar sayur dari Desa Kaponan, sampai dengan bertemu dengan nenek yang memberikan kami nasihat untuk berbuat sopan di Merbabu nantinya. Seruuuu...dan yang pasti melelahkan.











Dari base camp di Wekas perjalanan dilanjutkan ke Pos I, kebetulan kami mulai pendakian selepas Magrib jadi kami memerlukan pandangan dan kewaspadaan ekstra untuk bisa mencapai Pos II. Tidak mudah memang untuk pendaki yang baru seperti saya dengan tracking menanjak dan curam, namun dengan keyakinan dan dukungan dari sahabat-sahabat saya yang luar biasa akhirnya saya mampu mencapai Pos II dan mendirikan tenda disana. Perjalanan kami lanjutkan esoknya, bersua dengan rekan-rekan dari Jogja namun sayang kami tidak mencapai summit. Walaupun kami tidak mencapai puncak karena waktu yang tidak memungkinkan, namun kami merasa perjalanan kali ini teramat luar biasa dan memastikan untuk kembali dan merasakan puncaknya melalui jalur Selo.

Hamparan bintang yang begitu indah di langit Merbabu, gumpalan-gumpalan awan yang terasa begitu dekat, cantiknya edelweiss, angkuhnya sang Semeru yang nampak dari kejauhan, semangat dan keceriaan sahabat-sahabat istimewa saya dan yang pasti....Mie terlezat yang pernah saya makan. Subhanallah....

Kamis, 27 September 2012

Reflection of The Day

"When you try your best but you don't succeed...When you get what you want but not what you need..When you feel so tired but you can't sleep...Stuck in reverse..", penggalan lagu Fix You-nya Coldplay mengalun di indra pendengar saya. Mendadak saya menggalau, entahlah...karena lirik lagu atau situasi yang "tepat" yang membuat saya sedikit agak lebay, memalukan memang tapi itulah yang terjadi. Toh menurut saya hal tersebut lumrah dan manusiawi ketika saya terjebak pada situasi "itu" dan bukanlah hal yang salah ketika saya membiarkan apa yang ada dipikiran saya mengalir keluar begitu saja.


Banyak hal yang bisa saya dapatkan ketika saya berbincang dengan sahabat-sahabat baru dengan latar belakang berbeda. Obrolan-obrolan panjang itu seakan membuka pandangan picik saya selama ini akan sesuatu yang "benar" dan yang "salah". Kisah bagaimana seorang sahabat merelakan dan mengubur dalam-dalam kesempatan untuk berkarir di luar negeri karena orang tua yang sakit keras, kisah sahabat lainnya yang harus bersandiwara pada keluarganya untuk menutupi identitas ke'gay'annya atau kisah lain yang biasanya saya lihat melalui sinetron-sinetron di televisi. Ini nyata dan apakah mereka gagal? Saya rasa tidak. Saya memang terlalu naif untuk mengambil kesimpulan dari pemikiran saya yang belum tentu benar. Mendengarkan sebenarnya bukanlah hal yang sulit, hanya membuat telinga bekerja lebih ekstra, memahami lebih dan berimajinasi. Dengan mendengarkan saya mendapatkan informasi lebih mengenai manusia sebenarnya

Sebungkus rokok dan secangkir coklat hangat menemani saya berfikir tentang ketidakpekaan saya terhadap passion yang se'harus'nya saya jalani dan tentang keberhasilan-keberhasilan yang tidak pernah saya sadari sebelumnya. Saya adalah manusia berhasil, buktinya? Saya adalah buah dari sel sperma dan ovum terbaik dengan wujud saya sekarang, saya berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah dasar saya sedang diluar sana ada ratusan bahkan ribuan anak tak mampu mengecap bangku sekolah, saya pun berhasil membeli sepeda motor dengan uang saya sendiri walaupun dengan cicilan 36 kali. Bukankah itu suatu keberhasilan?

Thanks to : Oentoeng & Byan yang cukup menginspirasi tulisan ini. Sukses terus untuk kalian...