Kamis, 03 Januari 2013

Saya, Tahun Baru dan Stasiun Kereta Tanggul Jember

Pernah kepikiran kabur untuk menghindari dentuman kembang api dan semarak tahun baru? Tahun lalu sih saya sudah mencoba ngabur barengan Nade, Nunu, Eva & Budel ke Kp. Dukuh Garut, tapi karena saat ini saya hanya sendiri di Borneo, jadi kepikiran untuk menikmati perjalanan seorang diri. Yupz, moment tahun baru kali ini akan saya gunakan untuk menempuh perjalanan ala backpacker. Sebenernya sih nggak ngebekpek juga, semi bekpeklah hehehehe. Berhasil mendapatkan tiket BPP-DPS dari Maskapai berlogo hijau untuk keberangkatan Sabtu, 29 Desember 2012, saya pun mulai membuat rencana singkat perjalanan yang nantinya akan saya tempuh. Rencananya sederhana, saya hanya ingin bertahun baru di kereta api. Entahlah...ide itu muncul begitu saja, mungkin karena saya dan si "ular besi" ini punya banyak cerita sehingga tercuatlah ide ber”happy new year” di dalam kereta. Booking tiket kereta malam Banyuwangi-Surabaya “Mutiara Timur” untuk tanggal 31 Desember 2012 dan maskapai “Singa Udara” untuk kembali ke Balikpapan esok harinya.

Dan inilah ceritaku…

29 Desember 2012

Sepulang ngantor tangan saya mulai kreatif bersms dan berbbm ria nyari korban yang bersedia nganterin saya ke Bandara. Sebenernya sih Pa Riza (my boss) ngajakin bareng, beliau juga mo balik ke Jakarta tapi saya tolak karena jadwal terbangnya selisih 2 jam, bisa kisut nunggu lama di bandara. Syukur alhamdulillah yah, seorang pemuda baik hati dan tidak sombong bersedia mengantarkan saya ke Bandara malam nanti. Aan lagi luar biasa baiknya hari ini, udah maksa nganterin masih aja maksa nraktir, hahaha...boong ding :). Sebeneranya sih saya tidak perlu khawatir ketika nanti di Bali, hasil SKSD (Sok Kenal Sok Deket) kemarin membuahkan hasil. Tony, rekan saya di FB yang sudah biasa disusahin anak2 komunitas backpacker pun menawarkan tempat tinggalnya untuk saya singgahi. Tanpa banyak kata sayapun langsung mengiyakan bermalam ditempat Tony mengingat saya seorang budget minded (baca:ekonomis). Sayangnya sms dari maskapai penerbangan yang akan saya tumpangi membuyarkan semua rencana saya. Pesawat yang seharusnya tiba pukul 21.50 ternyata harus molor menjadi pukul 00.55 dini hari. Aaaarrgghhhh…terkatung-katung di bandara Sepinggan hampir 3 jam lamanya membuat saya berfikir ulang untuk melanjutkan trip ini, lagipula gak mungkin kan saya maksa Tony jemput di bandara pagi buta. Setelah menimbang, merenungkan dan menyayangkan tiket hangus akhirnya saya memutuskan untuk tetap melanjutkan trip ini.

30 Desember 2012
 
Tiba juga di Denpasar, sudah dini hari ternyata. Lihat jam di handphone sudah pukul 01.05, mata masih kriyep-kriyep dan taraaa...saya melihat papan petunjuk mushola, mendadak mata menjadi melek hahahaha. Sayapun mendatangi mushola untuk menyelesaikan sholat Isya yang tertunda dan tentu saja...tidooooorr. Suara azan subuh membangunkan saya, sholat subuh dan mulai menyusuri pintu keluar bandara. Badan masih berasa pegelnya, karena tidur yang kurang nyenyak. Ngopi di pojokan alfamart sembari menikmati hangatnya mentari sembari sms Tony untuk tidak usah menjemput. Plan hari ini diubah, Bali terlalu padat…ga oke untuk liburan. Coba bbm beberapa rekan untuk menanyakan akses ke Lombok, rencananya mau ngabur ke Lombok aja sekalian. Informasi yang saya terima ga akan efektif bila ke Lombok, waktunya terlalu mepet mengingat saya harus kembali ke Balikpapan dari Surabaya. Baiklah, saya akan berangkat ke Banyuwangi saja…Baluran, Ijen, G-Land, Sukamade dan Pulau Merah sepertinya lebih menarik ketimbang Kuta atau Legian. Tancaaaapppp….loh, kok mendadak bego yah??? Bandara ternyata sedang direnovasi, pantas saja banyak berubah, beda ketika tahun lalu saya kesini. Jalan kaki keluar bandara sampai pada patung kuda yang di Jl. Raya Tuban. Berasa juga pegelnya yah...hosh..hosh..hosh...Naik bemo (angkot) ke Tegalsari bayar 5rb....criiiing, trus nyambung naek bemo ke Ubung bayar 5rb...criiiing.






Naik angkot di Bali tuh suatu kebanggaan buat saya, gimana enggak...angkot di Bali tuh jarang banget, kebanyakan taksi sama rentalan motor/mobil yang berkeliaran, jadi ya saya bangga aja bisa mencicipi angkot Bali :D. Tibalah saya di terminal Ubung pukul 08.45, bus-bus antar kota dan daerah memang disini pusatnya. Turun dari angkot sayapun langsung diserbu oleh calo yang menanyakan tujuan saya. Masih dalam batas wajar sih, ga sampe yang narik-narik dan ngrebut tas, cuma memang rasanya kok mengganggu yah. Sayapun duduk manis di bus 3/4, saya lupa nama busnya, pokoknya bus ini melayani rute Ubung - Gilimanuk. Bayar ongkos 30rb...criiing, seharusnya sih 25rb, cuma kata si kernet berhubung tahun baru maka tarif angkutan juga mengalami penyesuaian....apa hubungannya coba? Aaaaarrgghhh !!!





Perjalanan Ubung-Gilimanuk ditempuh sekitar 3-4 jam. Pemandangan yang diitawarkan juga gak main-main. Ciamik banget, selain pura, sawah dan hamparan laut lepas ada juga pohon-pohon kamboja yang tumbuh di rumah warganya, pokoknya keren banget. Gak betah diem aja akhirnya ngajakin kenalan mas sebelah, namanya mas Yono, beliau kerja di PLN dan asli orang Surabaya. Cerita soal kabel, bahasa Bali, obyek wisata di Bali sampe ngemilin kacang rebus yang dibeli di terminal Negara. Seru, cuma saya banyak terlelap didalam bus, ngantuknya ga nahan euy.

Pukul 13.05 dan perjalanan terhenti karena bus sudah memasuki terminal Gilimanuk. Horraaayyy....akhirnya naek ferry, kenapa saya antusias? karena ini tuh kali keduanya saya naik kapal ferry setelah 3 bulan yang lalu ketika saya ke Tenggarong. Bayar tiket 6rb...criiiing dan naiklah saya kedalam ferry dan langsung menuju lantai 2, ruangan khusus penumpang. Di ferry ternyata sama seperti di dalam bus, ada toilet, TV,  mushola bahkan kantin juga ada. Perjalanan Gilimanuk-Ketapang tidak terlalu lama, hanya sekitar 1 jam namun berasa banget damai. Sapuan angin yang menyergap saya, birunya laut dan pemandangan yang luar biasa menjadikan penyebrangan ini semakin berkesan. Sayangnya menjelang Ketapang langit mendadak tak bersahabat, mendung euy. Btw, kok saya gak liat kumpulan anak yang menyelam untuk mencari koin atau uang yang dilempar penumpang ke laut yah? Bukannya di Ketapang atau Gilimanuk ada yah? Ato emang saya aja yang sotoy??? hahahaha. Ya sudah, lupakan saja...


Tiba di Ketapang dan kembali berkutat dengan angkot. Menuju stasiun Banyuwangi Baru untuk menukarkan tiket kereta. Stasiun Banyuwangi Baru tidaklah jauh, cukup berjalan kaki sekitar 15 menit saja dari pintu keluar pelabuhan atau naik ojek 5rb kita sudah sampai disana. Stasiun Banyuwangi Baru bukanlah stasiun besar, namun menurut saya stasiun ini lumayan cantik dengan pemandangan hijau disekitarnya. Sangat disayangkan karena bangunan ini kurang dirawat. Hujan yang barusan saja mengguyur Ketapang dengan derasnya, membuat lantai stasiun banjir karena atap stasiun bocor.




Ngangkot lagi dan alhamdulillah akhirnya saya sampai juga di tujuan saya, Desa Tembokrejo Kec. Muncar Banyuwangi dan bertemu dengan keluarga Alm. Om Marno. Sudah lama saya tak bersua dengan Bulik Tini, Nia, Niglen dan si kecil Niken. Cerita mengenai mendiang Om Marno, kehidupan Bulik Tini sekeluarga, gossip keluarga dan tentunya info spot wisata di Banyuwangi...hahahaa, lengkap bukan obrolan kami?. Capeknya masih berasa euy, selepas ketawa dan ngobrol ngalor ngidul akhirnya saya terkapar dan pulas tertidur..zzzz...zzz..


31 Desember 2012

Gak ujan sih, cuma efek ngangkot kemaren masih berasa. jadi siang ini cuma hunting foto di pelabuhan saja. Ternyata di Banyuwangi juga banyak etnis Madura, jadi bahasa yang digunakan selain bahasa Jawa, bahasa Madura pun sering saya dengar disini. Saya lupa apa nama pelabuhan di Muncar ini, memasuki pelabuhan terdapat pasar ikan dan tentunya puluhan bahkan ratusan kapal bersandar disitu. Kapal disini unik, artistik dan pastinya keren banget. Layaknya kapal bajak laut, ditengah kapal terdapat tiang pancang besar dan diatasnya bertengger sebuah kursi yang mungkin digunakan untuk melihat keadaan sekitar. Selain itu di belakang kursi pandang terdapat gambar-gambar yang menarik, ada gambar pahlawan, wanita cantik ataupun gambar pemilik kapal (mungkin yah...karena dibawah gambar ada namanya hehehe).







Sebenarnya pagi tadi saya ingin kabur ke Ijen, tapi karena satu dan lain hal akhirnya saya tangguhkan dulu. Biarlah Ijen dan teman-temannya mananti saya di kunjungan berikutnya. Siangnya saya ikutan sepupu saya ke Jember, ingin tahu kotanya Dewi Persik, apakah sama seksinya dengan sang pedangdut asal Jember itu. Perjalanan Banyuwangi Jember memakan waktu hampir 2,5 jam. Namun saya tidak kecewa, hanya dengan 15rb...criiiing kita akan disuguhkan pemandangan cantik ketika kita melintasi pegunungan Gumitir. Sumpah...keren banget. Tiba di Jember sudah magrib, dan untungnya sepupu saya sudah dijemput oleh tunangannya di terminal Jember. Muter-muter kota Jember dan singgah makan di Pujasera, banyak makanan ditawarkan disini, and you know what...makanannya tuh enak dan muraaaahhhh.

Karena sepupu saya memang ada acara di Tanggul, Jember akhirnya saya pun menumpang sampai stasiun Tanggul. Jember padat saat itu, maklumlah sekarang tanggal 31 Desember...mendekati moment pergantian tahun dan saya memang sedang menghindari kebisingan. Tiba di Tanggul sudah jam 22.00, stasiun Tanggul tidak jauh dari alun-alun Tanggul, jadi secara tidak langsung saya masih bisa menikmati keceriaan tahun baru meskipun tak seramai dan seheboh di Jember. Sepertinya saya harus mengikhlaskan untuk bertahun baru di stasiun ini. Sepupu saya sih ga tega ninggalin kakak gantengnya sendirian tapi saya meyakinkan kalo saya akan baik-baik saja. Mutiara Timur akan singgah di stasiun Tanggul sekitar pukul 01.20, jadi masih banyak waktu yang bisa saya habiskan disini. Berkenalan dengan mas "something" (maap mas, saya lupa euy) yang baru saja membawa serta keluarganya melihat kemeriahan tahun baru di alun-alun Tanggul. Kebetulan rumah mas something berada dekat dengan stasiun dan sayapun ditawari kopi dan keripik singkong. Agak ragu sebenarnya, karena ditempat saya berada memang banyak anak muda yang hilir mudik bergerombol dan kadang menghampiri si mas something ini. Tapi saya melihat mas something ini memang original baiknya, bukan KW hahahaha. Sampai pada suatu kejadian dimana didepan ruko tempat saya berada ada anak kecil yang tidur dengan pulasnya. Ketika si bocah terbangun, mas something segera menghampiri bocah itu dan menanyakan kenapa si bocah bisa berada disini. Saya sedikit paham obrolan antara si bocah dengan mas something, namun ketika si bocah gak begitu paham dengan bahasa Jawa dan mas something merubah bahasanya menjadi bahasa Madura sayapun melambaikan bendera putih....saya nyerah, ga ngerti sama sekali woy. Akhirnya sayapun memahami kalau si bocah memang kabur dari rumah. si bocah tinggal bersama neneknya dan orang tua bocah berada di Denpasar. Entah apa alasannya namun saya rasa memang ada konflik keluarga, mas something langsung menawarkan untuk mengantarkan si bocah pulang. Sebelumnya si bocahpun sudah ditawari makan dan minum oleh mas something, namun si bocah menolak. Akhirnya mas something meminta bantuan rekannya untuk mengantarkan si bocah sampai mendapatkan bis menuju rumahnya dan dibekali sejumlah uang. Yang paling saya inget dari mas something adalah dia pernah bilang, "hidup itu simple...hidup itu sederhana, namun kitalah yang membuatnya ruwet". Setuju banget sama mas something ini...

Pukul 00.00...ternyata untuk kota kabupaten seperti Tanggul ini, gempita tahun baru juga terlihat meriah. Pekikan terompet dan dentuman kembang api terdengar sampe tempat saya berada saat ini. Tidak begitu lama memang, namun saya bisa merasakan orang-orang disana bergembira merayakan moment tahun baru ini. Ga ada yang special dengan tahun baru bagi saya, yang jelas umur bakalan berkurang...apa harus dirayakan? Kembali terlibat perbincangan dengan mas something sembari menunggu si Mutiara Timur. Tepat pukul 01.20 terdengar pluit dari dalam stasiun, dan mas something masih sempet-sempetnya nganterin saya masuk kedalam kereta...luar biasa memang si mas something.




Mutiara Timur tidaklah penuh, banyak kursi kosong sehingga saya tidak perlu mencari tempat duduk sesuai yang tertera di tiket. Mencoba memejamkan mata namun sulit, ya sudahlah...dengerin mp3 saja. Tiba di Wonokromo pukul 04.30, sholat subuh dan saya harus bergegas ke bandara mengejar flight pagi.

1 Januari 2013

Selepas sholat subuh sayapun dihadang oleh tukang ojek dan taksi yang menawarkan jasanya. Taksi menuju bandara dibandrol 70rb sedangkan ojek menuju terminal Bungurasih 20rb. Coba sok ngerti daerah Surabaya sembari clingak clinguk cari angkot, akhirnya dapet juga angkot ke Bungurasih dengan tarif 5rb...criiing. Nunggu sekitar 1/2 jam baru dapet DAMRI ke bandara, bayar 15rb...criiiing.



Setibanya di bandara sebuah message BBM masuk, ternyata dari Indra yang juga sedang berada di Surabaya dan sedang menuju bandara. Waduuhhh...lama juga ga ketemu sama Indra, tapi sayangnya flight saya lebih dahulu. C'mon koh Indra, catch me if you can...hahaha. Disaat saya berharap penerbangan delay malah on schedule, jadi saya hanya berpapasan saja dengan Indra. Ketika saya boarding Indra baru saja tiba. Baiklah, kita ketemu di Jakarta saja...entah kapan itu. Kembali ke Balikpapan dengan serangkaian peristiwa menarik yang saya alami kemarin membuat saya tak kapok untuk bersolo traveling. Yang pasti saya benar-benar menikmati setiap detik perjalanan kali ini. Emmhhh...jadi kepikiran jalan lagi, tapi ga enaknya jalan sendiri tuh foto kita bakalan minim banget, soalnya kita harus cari orang buat motoin kita dan mendadak mati gaya pas mau di foto :(.

Matur suwun buat Tony yang udah nawarin tempat tinggalnya, mas Yono untuk kacang rebusnya, Kel. Alm. Om Marno untuk kehangatan dan ikan asinnya, Andre untuk tumpangan ke Tanggul, mas something untuk kopi, kripik singkong dan "hidup itu sederhananya", juga Koh Indra yang nyaris aja ketemu...Kalian luar biasa !!!

Sabtu, 29 Desember 2012

Melek Saat Imlek di Petak Sembilan




Sebenernya postingan ini tuh harusnya released bulan Januari-Februari kemaren, tapi karena bulan itu saya lagi berantem sama laptop saya si "Laptoporosis" jadi ga sempet ngelirik blog butut saya, setidaknya sekarang saya sudah mulai baikan lagi dengan si "Laptoporosis", and here is the story...

Imlek tahun ini tak perlulah ke Singkawang, cukup di kawasan Petak Sembilan Glodok, Jakarta Barat saja. Mencoba meracuni Burete (Eno), Ambar, Mba Ade dan Uda Achyar untuk berimlekan bareng. Iming2 nyari kuwaci, kue keranjang, dan ngecenging cici+koko membuat kami sepakat bertemu di halte busway Glodok.

Maklum di Indonesia, janjiannya sih jam 09.00 tapi menjelang jam 10.00 anak-anak baru pada menampakkan batang hidungnya. Dan disinilah kami, setelah sekian lama tak bersua. Banyak cerita mengalir dengan mulusnya dari mulut kami, dari Ambar yang melancong ke Asia tenggara, Uda Achyar yang ke Bira dan cerita menarik lainnya dari Burete dan Mba' Ade. Sembari bercerita kamipun mulai menyusuri kawasan pecinan ini. Terlihat banyak fotographer dan turis mendatangi daerah tersebut. Selain itu, banyak juga koko dan cici yang seliweran disekitaran kami...Ada Andy Lau eh ada Gong Li juga eh ada...Gum, wake up !!! You are in Glodok, not in Beijing !!! *digetok Ambar.

Tahun baru imlek 2563 semakin semarak dan penuh warna, cantiknya lampion dengan baluran warna merah dan emas mendominasi kawasan ini, serta adanya lilin-lilin raksasa yang tingginya bahkan melebihi tinggi saya...sesuatu yang menarik bukan?. Klenteng-klenteng saat itu memang sedang ramai dikunjungi etnis Tionghoa dan pemburu foto tentunya. Sebagai contoh Wihara Dharma Bhakti, wihara ini nampak begitu sesak dengan ramainya orang-orang yang ingin melakukan prosesi sembahyang namun disudut lain tempat ini nampak begitu ramai dengan orang-orang ingin merasakan suasana didalam klenteng, termasuk saya yang "kepo"nya udah pada tahap akut. Pokoknya saya harus masuk dan menjarah...loh? maap, maksudnya masuk dan menjelajah si klenteng ini.

Klenteng sendiri merupakan tempat ibadah penganut kepercayaan tradisional Tionghoa di Indonesia, karena  di Indonesiapenganut kepercayaan tradisional Tionghoa sering disamakan sebagai penganut agama Konghucu, maka klenteng dengan sendirinya disamakan sebagai tempat ibadah agama Konghucu. Di beberapa daerah, klenteng juga disebut dengan istilah tokong Istilah ini diambil dari bunyi suara lonceng yang dibunyikan pada saat menyelenggarakan upacara (sumber dari wikipedia).

Kembali ke imlek, saat itu klenteng memang terbuka untuk umum, jadi selain etnis Tionghoa terlihat juga beberapa bule dan warga lokal wara wiri disana. Bau hio (dupa) dan lilin yang dibakar mengepulkan asap yang membuat perih mata, di sudut lain terdapat sesajian yang diperuntukkan untuk Dewa maupun Dewi menurut kepercayaan mereka. Hadeeehhh...ga bisa dilewatkan neh, klentengnya keren dan kita harus pose...hahahahaa. Narsis timeeee...*jepret



 









Mata sudah sangat-sangat pedih karena asap dari ribuan hio yang dibakar, kamipun bergegas keluar menuju kerumunan diluar sana. Pertunjukan barongsay yang sangat-sangat atraktif tampil memukau diringi dengan liukan sang naga. Namun sayang, di sudut lain terdapat pemandangan yang sangat kontras dengan kemeriahan imlek. Puluhan pengemis duduk bergerombol dipintu keluar klenteng, mereka tidak sendiri...anak-anak mereka pun dibawa bersama mereka dan sedihnya lagi mereka dipaksa untuk menahan teriknya panas Jakarta...Ckckck.

Puas sudah kami menjelajah klenteng ini, waktunya berburu oleh2...yyyiiihaaaa...kue keranjang, bakpao, kuwaci, es susu kedelai, coklat rocka...I'm coming :)








  

Usai sudah berburu kuwacinya, seru dan pastinya menyenangkan karena saya ditemani oleh sahabat-sahabat istimewa saya. Saatnya melanjutkan ke destinasi berikutnya dan bertemu dengan Budel (Delima) dipasar Asemka.

Minggu, 16 Desember 2012

Beautiful Goodbye

Entah kenapa tiba-tiba mendadak saya ingin mendengarkan lagunya Maroon 5 "Beautiful Goodbye". Mungkin karena dalam minggu ini saya harus mengikhlaskan bos dan seorang sahabat untuk mewujudkan passion mereka. Bos saya, Pa Ridwan adalah sosok atasan yang gokil abis. Beliau ga pernah marah, kalo dicengin malah balik ngecengin, cerdas, bijak dan yang pasti bisa dijadiin teman diskusi yang baik. Inget bener kata-katanya kalo lagi reseh..."cacing calang", entah apa artinya itu hehehehe. Kalo udah sore sering nitip roti Tan Ek Tjoan buat ngganjel perut lapernya, sering nendang ato nonjok ga jelas (maklumlah doski mantan atlit), ato secara tiba-tiba iseng nyentilin kuping. Bajunya ga pernah dimasukin, rapi kalo cuma mau meeting sama direksi. Narsisnya bener-bener akut, demen banget nyanyi meski suaranya pas-pasan. Yupz, itulah bosku...

Lain Pa Ridwan lain pula dengan sahabat saya, Ferry. Ferry juga sedang mencari passionnya dibidang IT. Sosoknya sederhana, irit ngomong dan "irit" juga rambutnya. Masuk pada type melankolis, sosok pemikir yang sok hebat...apa aja pasti dia pikirin, mulai dari detik keberapa dia bisa langsung tancap gas pas di lampu merah sampe prediksi kedepannya kita akan seperti apa. Pinter banget komputernya, cyber crime...selalu berhasil njebol password HRIS saya.  Sok tegar, padahal pernah ke-gap lagi "kelilipan" (baca : nangis) pas diskusi bareng Pa Yudi. Solidaritasnya tinggi banget, ga pernah ngeluh dan ikhlas banget kalo mbantu siapapun itu. Pernah suatu ketika seorang sahabat kami "Ade" kecelakaan, Ferry langsung antusias menghubungi saya, Dika dan Udin, bisa ditebak kan? Pagi buta Ferry udah ke rumah buat nyulik saya dan janjian ketemu sama Udin hanya sekedar buat mbesuk Ade. Pernah juga pas Dika ketinggalan charger laptop, doski rela ujan2an bawa motor ke stasiun Tanah Abang. Terakhir nongkrong tuh pas kita ke Dunkin Buaran cuma ngebahas soal masalah percintaannya dia sekaligus masalah kantor.

Kahlil Gibran mungkin tepat menganalogikan makna perpisahan, "Ketika tiba saat perpisahan janganlah kalian berduka, sebab apa yang paling kalian kasihi darinya mungkin akan nampak lebih nyata dari kejauhan...seperti gunung yang nampak lebih agung terlihat dari padang dan dataran". Well, saya akan selalu inget saat-saat itu, toh waktu ga akan pernah berhenti  berputar kan? Dan kita harus melewati itu. So...just do our best dan semoga sukses menyertai kita semua, Amin.