Jumat, 09 Agustus 2013

Idul Fitri dan Harapan bertemu dengan Ramadhan Tahun Depan



Ramadhan tahun lalu masih bersama eyang kakung
Ramadhan 1434 H ini berlalu begitu cepat, tak terasa gema takbir mengumandang dimana-mana tanda esok sudah berganti bulan menjadi Syawal. Seperti biasa, sholat Ied di masjid Jami’ Ar Ridho berlangsung lebih awal. Pukul 06.30 muadzin sudah mengumandangkan dengan lantang niat sholat sunnah muakkadah tersebut. Saya yang baru saja tiba langsung menggelar sajadah merah tua saya, telat 2 takbir ternyata. Shalat 2 rakaat tersebut akhirnya ditutup dengan khotbah mengenai keutamaan idul fitri dan puasa 6 hari di bulan syawal.
Selesai sudah Shalat Ied, keluargapun lengkap berkumpul dan “sungkeman” sudah menjadi ritual rutin keluarga kami sampai dengan saat ini. Selepas ibu yang meminta maaf ke ayah, kemudian dilanjut oleh putra putri beliau. Mungkin tidak sesakral sungkeman yang dilakukan keluarga lain, namun keluarga kami menganggap ritual ini adalah inti dari proses panjang sebulan kemarin. Saya yang sebenernya cengeng tetap saja tidak bisa menangis saat meminta maaf pada kedua orang tua saya, malahan saya meminta doa beliau dengan harapan Allah cepat mempertemukan saya dengan jodoh saya, memberikan rizky halal yang cukup dan harapan lain yang sudah saya impikan sejak awal. Semoga Allah cepat menghijabah doa-doa tersebut…Amin. Kegiatan dilanjut dengan makan bersama, karena tamu sudah banyak berdatangan jadi ayah dan ibu menunda makannya dan menyambut tamu yang sebagian besar adalah tetangga terdekat kami.  Ibu memang sudah menyiapkan menu rutin tiap tahunnya. Ketupat dan kroni-kroninya, opor ayam, sayur labu, ayam goreng dan rendang.

Sekitar pukul 11.00 keluarga dari Bekasi tiba. Ayah adalah anak tertua, jadi semua keluarga ayah di Jakarta dan Bekasi pasti berkumpul dirumah ayah. Rumah ayah tidaklah terlalu besar, jadi bisa dibayangkan bila 32 orang kumpul  di rumah seluas 90 m2 itu kan? Malam sebelumnya saya  dan adik memang sudah menyiapkan “hadiah” untuk ponakan saya, dan kali ini ada yang berbeda. Tahun-tahun sebelumnya saya selalu memberikan mereka uang dengan nominal yang sama, tapi kali ini tidak. Saya sudah menyiapkan amplop bergambar angry bird, hello kitty dan alladin yang akan saya isi dengan sejumlah uang. Nominalnya tidak sama, berkisar 10rb – 50rb. Terang saja moment bagi-bagi amplop ini heboh…karena ada yang kecewa mendapatkan ribuan banyak yang ternyata jumlah nominalnya hanya 10rb dan ada yang bersorak mendapatkan 50rb. Seru, heboh dan yang pasti membuat lebaran kali ini semakin semarak.

Dibalik keceriaan lebaran, jujur saja saya merasa kecewa terhadap diri saya. Entahlah…meskipun saya bisa menyelesaikan puasa sebulan penuh namun shalat 5 waktu saya masih saja bolong, shalat malam dan tarawih bisa dihitung jari, Al Qur’an tak tersentuh sama sekali, sampai tidak ikutnya saya pada kegiatan charity seperti yang biasa saya ikuti 2 tahun terakhir ini. Separah itukah saya? Mengabaikan akhirat dan mengedepankan duniawi saya? Menganggap Lailatul Qadar hanya sekedar cerita indah tentang pahala yang diraih dengan memanfaatkan malam yang lebih baik dari seribu bulan itu?. Astagfirullohaladzim…saya telah menyia-nyiakan bulan penuh rahmat, barokah serta ampunan dan saya sendiri tidak mengetahui apakah saya masih bisa bertemu dengan sang Ramadhan. Semoga ramadhan kemarin bisa menjadi acuan saya untuk meningkatkan kualitas hubungan saya dengan sang pencipta maupun dengan sesama manusia, Amin ya rabb. Dan diakhir tulisan ini saya beserta keluarga ingin mengucapkan…

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Jumat, 02 Agustus 2013

Selamat Jalan Eyang Kakung Damin...

Usianya memang tak lagi muda, mungkin sudah menginjak 80 tahunan. Rambutnya pun mulai memutih dengan gurat wajah yang semakin kentara, tangan yang terkadang gemetar dan tubuh bungkuknya membuatnya terlihat menua termakan usia. Sosok renta itu bernama Damin, yups...beliau adalah kakek saya. Kakek super dengan segala kesibukan dan dedikasinya terhadap keluarga. Sosok tangguh yang memberikan kehidupan layak bagi ke 7 buah hatinya yang saat ini masih hidup. Sosok yang tak pernah mau diam untuk terus berkarya disisa hidupnya. Sosok  humoris, lincah dan tentu saja bijaksana.

Pernah ketika kami berkumpul di moment Idul Fitri tahun lalu, selepas makan malam bersama kami terlibat diskusi mengenai rencana menyatukan keluarga besar dalam sebuah acara, tetapi cucu-cucu beliau termasuk saya malah rusuh membahas soal warisan hahahhaha. Kalung emas, kebun tembakau, sawah dan asset lain punya simbah jadi bahan obrolan kami, ujung-ujungnya malah jadi heboh semua. Hanya sekedar lucu-lucuan dan pastinya membuat simbah tertawa puas. Kejadian itu menjadi satu moment dimana saya bisa melihat simbah bahagia bercampur dongkol dengan cucu-cucu durhakanya. Atau moment dimana simbah berjoget dengan riangnya pada acara pernikahan cucu-cucunya. Sayangnya moment itu tidak akan pernah ada lagi, simbah telah tiada hari rabu kemarin tgl 31 Juli 2013 akibat penyakit prostat yang dideritanya. Tak akan ada lagi moment-moment konyol seperti sebelumnya, tak ada lagi candaan dan tawa simbah. Simbah sudah kembali kepada sang pencipta, beliau sudah tenang dan kekal di surganya Allah, amin.

Selamat jalan eyang kakung, segenap keluarga akan selalu mendokanmu..Innalilahi Wainailaihi Rojiun.

Senin, 10 Juni 2013

Setitik Surga Bernama Ranu Kumbolo

Bukan lantaran efek nge-hitznya fim 5cm, bukan pula ingin dibilang keren karena pernah ke Semeru tapi saya memang ingin mengintip surga dari celah Semeru...tsaaah. Perjalanan kali ini diawaki oleh Yayah, Noris, Meidy, Irma, Putri dan saya tentunya.

Gaya Baru Malam Selatan mengantarkan kami menuju Surabaya selama sekitar 14 jam lebih. Perjalanan dilanjutkan dengan mobil yang telah kami sewa sebelumnya dengan tujuan Surabaya-Ranupani, entahlah...sekitar 3-4 jam mungkin untuk mencapai Ranupani.

Kesalahan terbesar kami adalah tidak memastikan mobil yang nantinya akan menjemput kami, sebuah Daihatsu Grand Max hitam sudah stand by di stasiun Gubeng. Terang saja, ketika mencapai Tumpang menuju Ranupani si mobil hitam itu tak mampu untuk menanjak. Medan yang curam dan berbatu penuh lumpur membuat si hitam tak berdaya, nggak tega dengan kondisi si hitam kami memutuskan untuk turun meskipun pos Ranupani hanya sekitar 3-4 kilo lagi. Berbekal jempol kapalan dan muka kasihan, sebuah truk sayur yang melintas memperbolehkan kami menumpang hingga Ranupani.

Diatas Truck Sayur

Tibalah kami di Ranupani, registrasi dan trekingpun dimulai. Semeru cukup ramai saat itu, lagi-lagi karena efek film 5 Cm....Aaarrgghh. Treking cukup nyaman siang itu, cuaca tidaklah terik. Awan-awan masih menggelayuti langit Semeru, namun setelah setengah perjalanan, rintik-rintik hujan mulai membasahi tanah Semeru.

Awal Pendakian
Papan petunjuk
Sepatu yang selalu mengiringi langkah saya
Sesaat sebelum bertemu Ranu Kumbolo
The beauty of Ranu Kumbolo

Alhamdulillah, setelah menempuh sekitar 5 jam perjalanan, kami tiba di Ranu Kumbolo. Subhanallah, indah nian temans. Kami nge-camp di sudut berbeda dari pendaki lain, sudah ada 3 tenda disana. Memang membelakangi spot sunrise namun kami rasa tempat inilah yang paling nyaman untuk bermalam...tidak seperti sudut diseberang sana yang ramai dengan puluhan tenda.

Nongkrong sembari ngopi pagi
Ranu Kumbolo ramai dengan puluhan tenda
Selamat datang di Ranu Kumbolo




Yeaahhh...I made it, tanjakan cinta hahahha
Turunan menuju Oro-oro Ombo
Lavender disela jamnya Yayah
Srikandi-srikandi ini emang ga ada matinya
Ranu Kumbolo dari atas tanjakan cinta

Memang hanya semalam dan kami harus menyudahi untuk mencumbui Ranu Kumbolo. Jujur saja, enggan rasanya kami untuk membongkar tenda dan packing pulang. Tapi mo gimana lagi? ada pekerjaan dan tanggungjawab yang harus kami selesaikan..maklumlah, kami hanyalah pekerja yang dibayar atas pekerjaan kami,  we hate it but we can't ignore it hahaha. Saya mungkin akan kembali lagi, bukan hanya sekedar mengintip surganya Allah dalam bentuk Ranu Kumbolo, tapi saya akan memeluk Mahameru...puncak tertinggi di pulau Jawa.

Ranu Kumbolo versi National Geographic
Our Last Breakfast
Menuju Malang dan bermalam dirumah sepupunya Noris. Besok paginya eksplor Malang kecil-kecilan sembari makan nasi pecel di pasar pagi dekat stadion Gajayana. Beli keripik buah buat oleh-oleh dan akhirnya kami harus berpisah. Saya, Yayah dan Meidy akan menuju Surabaya untuk melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan kereta Gumarang, Irma dan Putri ke Purwokerto dengan bus, Noris ke Jogja . Pokoknya jalan sama kalian tuh kece banget...gokilnya dapet, fun-nya juga dan makna perjalanannya apalagi. Next trip akan kemana kita?

Stasiun Pasar Turi Surabaya